21.00 -
No comments
No comments
Jaga Selalu Hatimu
Nama Pengarang : Khairani Arrahma #KA
“CINTA”
Adalah sepatah kata yang bisa membuat seseorang bahagia, tak jarang membuat kita menderita. Maka jangan
katakan cinta jika hanya ingin membuat perasaan orang lain terluka, karna
sesungguhnya cinta itu anugrah terindah yang diberikan sang khalik kepada semua
insan.
Satu hubungan percintaan hancur karna
perselingkuhan dan kebohongan yang ada di dalamnya, cinta bukan mainan belaka
tapi cinta adalah rasa yang dimiliki setiap orang yang tak bisa untuk
dipermainkan, begitu juga yang ada pada kisah yang tertulis disini. Hanya ada
orang ketiga dalam hubungan mereka.
Terlihat sepasang bola mata perempuan
itu yang bernama Dewi Anggira, seseorang yang ia cintai berada ditaman indah
jakarta itu bersama seseorang perempuan yang duduk disampingnya bercanda gurau
bersama. Sangkaan gadis manis berambut hitam sepinggang itu mulai tak beraturan,
dalam diam ia bergumam dalam hatinya..
“Aryaa..kamu tega, kamu selingkuhin
aku, apa kurangnya aku” Dewi tak tahan dengan apa yang terlihat didepan matanya
ia pun menangis sembari melangkah pergi jauh dari dimana ia melihat kekasihnya
bersama wanita lain.
“Arya, nanti kita pulang bareng ya.??”
Ajak Tasya sigadis mentel yang imut itu yang duduk bersama Arya ditaman indah
jakarta itu.
“Eeemmhh..gimana ya..??” Arya berpikir
sejenak tentang Dewi.
“Yee,,pake acara mikir segala buat
pusing tau, kegini aja ya..aku gak tau menau nanti aku tunggu didepan pintu
gerbang kampus ya..daaaa.” Tasya sigadis mentel itu pergi meninggalkan Arya
sendiri yang terpakur memikirkan segalanya.
Sementara Dewi tergesa-gesa berjalan
menuju pintu gerbang kampus Universitas Gadjahmada itu. Sekali lagi ia melihat
pemandangan yang merusak penglihatannya. Arya sicowok ganteng tapi genit itu
masuk mobil bermerek avanza bersama wanita yang duduk bersamanya ditaman indah
jakarta tadi. Dewi terus memperhatikan mereka, tanpak oleh Dewi Arya menelfon
ketika ingin masuk mobil tapi entah siapa yang ditelfonnya itu, tiba-tiba
handphone nokia 310 Dewi berdering buru-buru ia mengambil handphone didalam
tasnya. Terlihat olehnya panggilan masuk “A R Y A” Dewi mengangkat sambungan
itu.
“Hallo sayang..” sapa Arya diseberang
sana
“Ya..ada apa sayang.?” Dewi mencoba
bersikap tenang saat amarah menggumpal dihatinya.
“Eeemmhh..sepertinya aku hari ini gak
bisa pulang sama kamu sayang..soalnya tugas aku numpuk nih..maaf ya sayang”
ujar Arya berbohong dan Dewi mengetahui kebohongan itu.
“Ya..gak apa-apa..kamu sekarang
dimana.??” Tanya Dewi
“Aku diperpus nih sayang..” ujarnya
sekali lagi berbohong padahal Arya sekarang diparkiran pas terlihat didepan
mata Dewi sekarang.
“Aku kesana ya..?? lagian aku hari ini
gak ada tugas jadi aku bisa bantu tugas kamu yang numpuk” ujar Dewi terus yang
ingin mengetahui samapai dimana Arya terus membohonginya.
“Eeemmhh..lebih baik gak usah deh
sayang..nanti kamu kecapekan lagian aku bisa sendiri kok ngerjain tugas ini
mendingan kamu pulang aja ya sayang istrahat yang cukup..oke sayang..daa..i
love you” kilah Arya dengan cepat arya memutuskan telfon itu.
Terbayang tidak bagaimana sakitnya
hati Dewi saat itu, banyak kata yang ingin ia ungkapkan namun semua kata-kata
itu tertahan dan menyesaki dadanya, hanya air mata yang bicara pada saat itu.
J J J
Malam telah menyingsing
keheningan malam mulai menyapa,tangisan luka Dewi belum juga kering, deringan
handphone nokia 310 Dewi berbunyi panggilan dari Arya sudah 3 panggilan tak
terjawab Dewi merasa enggan mengangkat telfon darinya tak berapa lama kemudian
pesan Arya masuk, Dewi meraih handphone nya yang terletak tepat disampingnya ia
duduk dan membaca isi pesan itu.
“sayank
kenapa telfon aku gak diangkat sms aku juga gak dibalas,knapa..??”
Jari jemari Dewi mulai menari diatas
tombol-tombol abjad ABCD-Z yang terpisah pisah di keyboard handphonenya dengan
membalas pesan Arya.
“Aku mau
kamu jangan ganggu aku buat sementara waktu ini.. aku butuh ketenangan dalam
diri aku, besok temui aku dikantin jam istirahat..” sekian pesan yang Dewi
kirim untuk Arya.
Arya bingung dengan keadaan yang
membuat nya bingung, ada apa sebenarnya dengan Dewi, kenapa sikapnya begitu
dingin tidak seperti biasa. Namun disisi lain Arya juga mencintai Tasya, gadis
yang berhasil mencuri hatinya. Entah lah, ada apa sebenarnya dengan kisah
percintaan yang rumit ini.
Sigmin teman sekampus Arya dan juga
teman satu kos nya melihat kebingungan pada diri Arya, Big equation ???? tapi
Sigmin sendiri tidak tahu apa yang ada dipikiran Arya. Belum lagi habis dari
pikiran Sigmin tentang masalah yang dihadapi Arya, Arya memulai untuk bicara
pada Sigmin yang mugkin akan ada jalan penyelesaiannya tentang yang ia pikirkan
saat ini.
“Min,
menurutmu Dewi apa Tasya.?” Tanya Arya.
“Maksud
mu.,??” Sigmin bingung.
“ Yaa Min,
aku kacau akhir-akhir ini , aku bersama Dewi tapi aku juga ingin bersama
Tasya,”
“ jangan
serakah bro, pilih satu jika itu menurut mu yang terbaik, jika tidak kau akan
kehilngan keduanya.”
“ aku tidak
bisa menentukan pilihan diantara keduanya Min, aku mencintai dua hati “
“ kau bukan
mencintai dua hati tapi serakah ingin memiliki dua hati itu, apa kau tau Dewi
yang akan lebih terluka diposisi ini, dia tidak hanya dibohongi oleh mu tapi
juga dikhianati, diduakan, dikecewakan dan tanpa kau sadari kau sudah menyakiti
satu hati, sementara Tasya dia hanya merasakan sakitnya dibohongi tapi tidak
diduakan, pikir bro Sigmin sedikit
menceramahi Arya, setidaknya mereka sudah lama bersahabat. Arya terdiam dengan
kata-kata Sigmin, benar juga apa yang dikatakan Sigmin. “Tapi haruskah aku
memutuskan Dewi hanya karna Tasya yang baru ku kenal.?? Haruskah aku
meninggalkan Tasya demi Dewi, gadis yang sudah lama ku kenal dan selalu ada
disetiap susah senangnya hidup ku”. Arya terpakur memikirkan segalanya.
J J J
Pagi ini Dewi menunggu Arya untuk
menjemputnya dan pergi kekampus bareng sepertia biasa, tapi kenapa pagi ini
Arya tidak menjemput Dewi. Dewi tidak bisa menunggu lagi, jam masuk kampus
sudah sebentar lagi dengan cepat Dewi melangkah berangkat kekampus, sudah 1 jam
dia menunggu tapi Arya tidak kunjung datang.
Sesampainya digerbang kampus Dewi
melihat Arya membonceng perempuan yang mengobrol dengannya ditaman semalam
dengan sepeda motor kerennya itu berlagak seperti orang yang ganteng sedunia.
Yaa.. itu dimata Dewi, Arya adalah lelaki sempurna, baik, keren dan juga
romantis. Tapi dunia sudah membuka mata Dewi lebar-lebar bahwa Arya buka lah
yang terbaik, Dewi salah menilainya selama ini. Namun kekuatan cinta Dewi
mengalahkan semuanya, bahwa apa yang dilihatnya semua itu hanya mimpi buruk
yang tidak akan pernah nyata walaupun sebenarnya Dewi sendiri tak bisa
menyangkal bahwa itu nyata adanya.
Perjanjian tetaplah harus ditepati,
selesai pembelajaran dikelas Dewi melangkah pergi kekantin untuk bertemu Arya memebicarakan
hubungan yang nyaris putus ini. Jam istrahat hanya 15 menit tapi sudah 10 menit
Dewi menunggu Arya tidak juga datang, sebentar lagi jam masuk kuliah akan tiba.
Akhirnya Dewi memutuskan untuk pergi, Arya juga tidak menghubunginya. Apalagi
sekarang yang diharapkannya dengan hubungan ini, semua sudah berakhir.
J J J
Semenjak Arya melupakan pertemuan
dikantin kampus semenjak itu pula arya tidak pernah menghubungi Dewi lagi dan
ini sudah seminggu lamanya, Dewi berusaha menghubunginya tapi tak pernah ada
respon dari Arya. SMS, telfon, BBM, line, inbox facebook, WA, semuanya Dewi
gunakan untuk menghubungi Arya tetap tidak ada respon. Terbayang tidak
bagaimana sakitnya ditinggalkan tanpa alasan jika pun alasan itu sendiri Dewi
sudah mnegetahuinya tapi belum jua jelas baginya masih banyak pertanyaan yang
menyelimuti hatinya untuk Arya.
Siang itu tanpak mendung Dewi
melangkah cepat memasuki perpustakaan untuk mencari buku refrensi dari makalah
yang direvisi. Tiba-tiba handphone Nokia 310 nya berbunyi dengan cepat Dewi
merogoh tasnya untuk mengangkat telfon itu dengan harapan yang menelfon adalah
Arya, Dewi sengguh merindukannya walaupun dengan apa dibuat Arya selama ini.
Bukan, bukan dari Arya ternyata tapi dari Sigmin, tapi ada apa sigmin menelfon
tiba-tiba,.?? Apa ini tentang Arya,.??
“ Hallo wi,
kamu dimana, ini aku Sigmin.” Ucapnya dari seberang sana dengan nada khawatir.
“ yaa.. aku
diperpus, ada apa min., semua baik-baik aja kan,.??” Dewi mencoba menenangkan
keadaan.
“ Arya wi,
Aryaa..??”
“ Arya..?? Arya
kenapa min Arya kenapa.??”
“ Arya
kecelakaan.”
“ Apaaa..??”
ujar Dewi syok, sekian lama ia menunggu kabar tentang Arya harus kah yang
datang kabar seburuk ini.
“ Arya
dimana sekarang min, dimana ?” tanya Dewi lagi sembari tanpa sadar air matanya menetes.
“ Dirumah
sakit wi, rumah sakit CintaMedika” Sigmin mencoba memberi tahu.
Dewi memutuskan telfon begitu saja,
berlari keluar perpustakaan menuju rumah sakit dengan hujan diluar yang deras Dewi
tak merasakan butiran-butiran itu mengenai tubuhnya, butiran air hujan yang
membasahi sekujur tubuhnya. Kepanikan yang luar biasa yang dirasakannya. Ooohh
tuhan cinta gila apa ini yang dirasakan Dewi sekarang untuk orang yang tidak
pernah melihat cinta sebesar ini. Kenapa cinta setulus itu harus jatuh pada orang
yang salah, tidak.. cinta tidak pernah salah, bukankah begitu,.??
Dalam waktu 20 menit Dewi sudah sampai
dirumah sakit dengan sepeda motor yang didapatnya diparkiran beserta kuncinya.
Entahlah Dewi sendiri tidak tahu itu sepeda motor siapa yang pasti Dewi sudah
sampai kerumah sakit sekarang. Terlihat oleh Dewi Sigmin tertunduk lesu didepan
ruang UGD. Dewi mencoba menghampiri Sigmin dengan berharap mendengar kabar baik
tentang Arya.
“ Min.??”
Dewi memanggil Sigmin
“ Dewi..?”
Sigmin kaget dengan keberadaan Dewi yang tiba-tiba sudah dirumah sakit dengan
basah kuyup karna hujan, bibir yang pucat karena kedinginan.
“Gimana
keadaan Arya min.,?? dia baik-baik aja kan” tanya Dewi dengan nada khawatir,
air mata yang jatuh menandakan dewi begitu takut kehilangan Arya.
Baru saja mulut Sigmin ingin
memberitahukan keadaan Arya pada Dewi tiba-tiba mereka dikejutkan dengan
kedatangan perempuan yang juga khawatir tentang keadaan Arya. Sigmin tercengang
dengan keadaan ini padahal dia tidak memberitahu siapa-siapa tentang keadaan Arya
kecuali Dewi dan orang tua Arya yang kemungkinan sekarang masih ada
diperjalanan menuju rumah sakit.
“ Tasya.,??”
ujar Sigmin kaget.
“ Yaa..
gimana keadaan Arya min., apa semua baik-baik saja, seseorang mengupload foto
difacebook dengan status ada orang kecelakaan dan aku lihat plat BK sepeda
motor Arya.,” beritahu Tasya.
Belum lagi habis keheranan Dewi dengan
perempuan yang barusan datang itu dokter keluar memberitahu bahwa Arya kritis
dan banyak mengeluarkan darah, jika Arya tidak dapat pendonor darah saat ini
mungkin dia tidak akan tertolong dan stok darah dirumah sakit tidak ada yang
cocok dengan darah Arya. Dewi menangis tanpa suara sementara peremupuan itu
adalah perempuan yang sering bersama Arya belakangan ini dan semenjak itu Arya
menghilang dari Dewi tanpa kabar.
Tiba-tiba dokter menanyakan lagi.
“ Apa ada
disini anggota keluarga dari saudara Arya.?”
“ Saya dok.,
saya tunangan arya” Tasya mengaku.
“Baiklah
kalau begitu mari ikut saya,.” Dokter mengajak keruangannya untuk memberitahu
kedaan Arya lebih detail lagi.
“Apaaa.. tunangan” gumam Dewi. Dewi
lumpuh sejenak mendengar pengakuan dari Tasya, haruskah sesakit ini keadaan
yang dilalui Dewi. Dewi menangis terisak dengan semua keadaan yang menyakitinya
saat ini, tidak menyangka semua akan sesadis ini. Sigmin sangat mengerti dengan
keadaan Dewi, Sigmin juga sangat menyayangkan dengan pilihan Arya yang jatuhnya
pada Tasya sedangkan Sigmin sendiri melihat ketulusan dari Dewi. Cinta
mempunyai kekuatan masing-masing. Cinta mempunyai sudut pandang yang berbeda.
Setelah Tasya keluar dari ruangan
dokter Dewi pun masuk menanyakan tentang Arya. Dewi tak menghiraukan Sigmin
ketika bertanya mau kemana.
“Wii.. kamu
mau kemana wii., itu semua bohong wii., Arya gak tunangan dengan Tasya wii, Tasya
bohong wi., dengarkan aku wii., Dewiii..??” sigmin mencoba menetralkan suasana
tapi semua Big Eqution bagi Dewi. Dewi pergi melangkah lesu tanpa mendengarkan
Sigmin.
“ Dok., saya
Dewi Anggira teman dari Arya, saya mau mendonorkan darah untuk Arya.” Ucapnya.
“ oohh anda
datang pada saat yang tepat, baiklah mari ikut saya.” Ajak dokter.
Dokter memeriksa Dewi disebuah ruangan
dan kemudian mengambil darah Dewi, Dewi begitu pucat setelah darahnya diambil.
Ini semua untuk Arya, ini adalah hal terakhir yang dilakukan Dewi untuk Arya.
Selepas ini Dewi akan pergi jauh dari Arya, melupakan semuanya tentang Arya.
Melupakan semua tentang cinta yang bukan untuknya, melupakan semuanya hingga
tak ada yang tersisa lagi.
Setelah Dewi mendonorkan darahnya ia
tertidur lemah dirumah sakit tempat dia berbaring saat dokter mengambil
darahnya. Satu jam Dewi tertidur disana, Dewi terjaga dari tidurnya saat mimpi
buruk mengahampirinya bahwa Arya akan pergi meninggalkannya. Dewi menangis
terjaga dari tidurnya, bangun dan pergi dari rumah sakit. Sebelum Dewi pergi
dia melihat Arya walau dari kaca pintu ruangan tempat arya dirawat, disana ada
Tasya, ada orang tua Arya dan juga Sigmin sahabatnya. Arya bahagia dengan
orang-orang disekelilingnya sekarang yang menyayanginya. Dewi juga menangis
haru saat melihat Arya bangun dari komanya dan melihat senyumnya, itu semua
udah cukup bagi Dewi.
Dewi menyeka air matanya yang jatuh
tak terbendung dengan isak suara yang terdengar sakit, saat Dewi melangkah
pergi Sigmin memanggilnya lirih dengan nada sedih melihat kondisi Dewi.
“ Dewiii,.?”
Dewi hanya diam dan menatap Sigmin
dengan butiran air mata yang jatuh, dengan isak tangis yang terdengar pilu.
“ Benar kan
min., dia udah tunangan dan bahagia dengan pilihannya sekarang, aku ikut
bahagia min,. Aku akan pergi min., pergi dari kehidupannya aku akan berusaha
melupakan semua tentang dia min.,” ujar dewi terisak menangis.
“ Maaf wii,
aku juga gak tau akan jadi seperti ini, biasa Arya akan cerita tentang apapun
itu tapi semenjak mengenal Tasya kami hampir tak pernah komunikasian lagi
walaupun kami satu kos, dan bahkan aku menanyakan ada apa dia hanya menjawab
bahwa semua baik-baik saja,”
“ bisakah
kau menunggu ku sebentar min., ada hal yang ingin aku sampaikan pada Arya tapi
tidak secara langsung”
“ apa
itu,.?” Tanya Sigmin.
“ surat “
jawab Dewi singkat.
Dewi mengambil pena dan kertas binder
dari tasnya. Menuliskan sesuatu untuk Arya, entahlah Sigmin sendiri tidak tahu
apa yang ditulis Dewi untuk Arya. Setelah selesai menulis Dewi memberikannya pada
Sigmin dan berpesan agar memberikan surat itu pada Arya.
“ Min.,
tolong berikan surat ini pada Arya, dan jangan beritahu siapapun bahwa aku
pendonor darah untuk Arya, maaf min hanya ini hal terakhir yang bisa aku
lakukan untuk Arya”
Dewi melangkah pergi meninggalkan Sigmin
yang terpakur memikirkan segalanya yang menurutnya ini semua tidak habis fikir.
Walaupun diakhir ceritanya bersama kekasih yang tak melihat ketulusannya ia
masih mampu menyelamatkan nyawa kekasihnya walaupun ia tau bahwa ia yang akan
hancur bersama cintanya.
J J J
Satu tahun setelah Dewi pergi dari
semua cerita yang menyakitinya dan cinta yang bukan untuknya semenjak itu pula
Arya tidak pernah terfikir tentang Dewi seseorang yang sudah 2 tahun
bersamanya. Begitu juga Sigmin, Sigmin tidak pernah bertemu dengan Dewi lagi,
terakhir kali Sigmin melihat Dewi satu tahun yang lalu dirumah sakit dengan
surat yang ia titipkan pada Sigmin, Sigmin juga tidak pernah melihatnya dikampus
lagi. Kemana sebenarnya Dewi,.??
Bulan depan adalah penetapan tanggal
dimana pernikahan Arya dan Tasya. Arya begitu sibuk dengan persiapan
pernikahannya begitu juga Tasya. Semua terlihat bahagia semenjak kepergian Dewi
dari kehidupan Arya. Dan semua terlihat baik-baik saja. Namun kebohongan tetaplah
kebohongan, kebohongan Tasya pada Arya bahwa Tasya sebenarnya sudah punya
pilihan hati bernama Robby, Tasya dan Robby menjalani hari layaknya sepasang
kekasih dibelakang Arya. Permainan cinta yag dimainkan Tasya membuat luka dan
cidera parah pada bagian hati Arya. Namun semua belum lagi terungkap.
Permainan ini begitu diluar akal
pikiran jika melihat cinta Tasya dan Arya yang sebentar lagi menuju
kepernikahan yang berarti lebih serius lagi. Sekenario tuhan memang luar biasa
untuk makhluknya yang semuanya tidak dapat
diduga. Malam ini Arya sengaja tidak memberitahu Tasya bahwa dia akan datang
kerumah Tasya yang kebetulan orangtua Tasya sedang berpergian keluar kota.
Dengan membawa setangkai mawar untuk Tasya, Arya melangkah mendekati pintu
rumah Tasya dan berharap Tasya akan kaget dengan keberadaannya dengan
memberikan supraice pada Tasya.
Arya mengetuk pintu rumah Tasya dengan
perasaan bahagia, dan seseorang membukanya, seseorang yang bukan Tasya tapi
lelaki dengan busana tanpa baju dan hanya memakai celana boxer. Arya bingung
denga keadaan ini setau Arya Tasya tinggal bersama orangtuanya tanpa ada
pembantu, Tasya juga anak satu-satunya, Tasya juga tidak punya abang sepupu
atau saudara laki-laki yang tinggal bersama keluarganya. Tiba-tiba Arya
mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
“
sayaaaang.. siapa sih yang datang” suara lembut Tasya memanggil lelaki tanpa
busana ini sayang, Tasya berlari kecil melihat kedepan siapa yang datang dan
memeluk lelaki tadi. Tasya yang demikian sama pakaiannya hanya memakai tentop
dan celana pendek ketat memeluk lelaki itu.
Arya lumpuh seketika melihat apa yang
didepannya, begitu juga dengan Tasya yang kaget melihat Arya datang kerumahnya.
Lidahnya kelu ingin memaki Tasya dengan apa yang dilihatnya barusan berduaan
dirumah dengan pakaian seperti itu. Tak terbayangkan oleh Arya apa saja yang
mereka lakukan, bunga mawar merah jatuh dari tangannya yang lunglai melihat
kekasih yang ia cintai menghianatinya.
“ Aryaaa..
aku bisa jelasin semuanya., ini gak seperti yang kamu lihat” Tasya mencoba
menjelaskan dengan kebohongan selanjutnya, tapi Arya tidak ingin mendengarnya
lagi.
“ cukup Tasyaa..
ini semua udah cukup menjelaskan kalau kamu memang bukan perempuan yang baik,
seharusnya aku sadar dari dulu hanya karena mulut busuk mu kamu menyuruh aku
meninggalkan Dewi, menyakitinya, itu semua karna kamu dan ini balasan yang kamu
beri ke aku setelah aku korbankan semuanya, aku salah menilaimu dan aku salah
memilih mu, padahal kamu tau aku mencintaimu lebih dari apapun itu dan sebentar
lagi hari pernikahan kita, apa yang kamu pikirkan Tasya.,??” Arya syok melihat
kejadian yang dialaminya ini.
“tapi aku
nggak pernah mencintai kamu Arya, aku bersamamu hanya karena hari itu Robby
meninggalkan ku karena wanita lain dan sekarang Robby udah kembali, dia
menyesal udah tinggalkan aku, aku juga masih mencintainya. Kamu yang bodoh Arya
kamu bodoh nggak bisa melihat mana itu cinta dan yang mana itu mainan”
“ okeee..
aku memang bodoh., bodoh mempercai wanita jalang seperti kamu, busuk, gak ada
hati” amarah Arya memuncak dan seketika itu satu pukulan mendarat kewajah Arya.
Robby memukul Arya berkali-kali karena menghina kekasihnya Tasya. Setelah babak
belur dipukuli, Tasya dan Robby masuk kerumah tanpa memperdulikan Arya yang
hampir mati karena pukulan.
J J J
Karma, yaa.. karma masih berlaku
bukan.,?? malam itu begitu penuh kejutan bukan.,?? kejutan yang perfect.
Disela-sela kesakitannya dengan kejadian pilu yang menimpanya Arya teringat
akan sosok Dewi, Arya begitu sangat menyesal pernah menyia-nyikannya. Malam itu
Arya tidak pulang kerumahnya melaikan kekos lamanya menemui Sigmin sahabat yang
sudah lama Arya tidak mendengar kabarnya. Arya tidak yakin akan menemukan Sigmin
dikos-kosan lama mereka tapi dugaan Arya salah, Sigmin masih disana dan
membukakan pintu ketika Arya mengetuknya. Sigmin terkejut dengan kedatangan Arya
yang semeraut dan babak belur.
“ ada apa Arya.,
kamu kenapa babak belur begini bro,.?” Tanya Sigmin tapi Arya menjawabnya
dengan tangisan. Sigmin makin bingung dengan keadaan Arya. Kemudian Arya
menceritakan semuanya, semua yang membuat ia menangis dan terluka parah
dibagian hatinya. Sigmin mengerti dengan keadaan dan penyesalan Arya.
Sigmin kemudian memberikan surat pada Arya dari Dewi, ternyata Sigmin belum memberikannya Sigmin menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya pada Arya. Arya tercengang menerima surat itu, perlahan membacanya hurup demi hurup, disana tertulis dengan indah...
"Arya kekasih
ku,.
Yang
cintanya melekat dalam diriku menjadi satu dalam jiwaku, yang tidak akan
mungkin hilang begitu saja walau beribu luka sudah kau lukiskankan untuk ku.,
maaf jika aku meningalkan mu tapi kepergian ku pun demi bahagia mu bersama
tasya, wanita yang kau temukan lebih baik dari ku, aku ikhlas. Aku bahagia
melihat mu bahagia saat ini karena aku tak bisa memaksa mu untuk tetap bersama
ku sementara aku melihat dimatamu cinta untuk tasya bukan untukku. Ingatlah
sampai kapanpun rasa ku ini takkan berubah walaupun akhirnya kita pisah. JAGA
SELALU HATI MU untuk cinta yang kau miliki sekarang.
Dari dewi
untuk Rinduku Arya."
Tubuh Arya makin lemah lunglai dengan
kata-kata disurat Dewi seakan menyihirnya sampai menangis tanpa suara.
Tiba-tiba Arya jatuh dan tak sadarkan diri. Sigmin panik dan cepat membawa arya
kerumah sakit. Pukulan yang diterima Arya dari Robby kekasih Tasya cukup serius
lain lagi sihir dari kata-kata Dewi membuat semuanya terasa berat untuk Arya
lalui sendiri. Setelah dua jam tak sadarkan diri Arya bangun dari tidurnya
melihat ia bukan dikos-kosan lamanya Arya kaget seketika kenapa dia bisa ada
dirumah sakit, tapi kepahitan malam itu masih jelas dikepalanya dan tidak akan
mungkin melupakan semuanya sehingga membuat ia harus dirawat dirumah sakit.
Sigmin masih disana, didekat Arya
sahabatnya. Arya menanyakan Sigmin kemana Dewi pergi tapi Sigmin tidak tahu, Dewi
hanya memberikan surat tapi tidak memberitahu kemana ia akan pergi. Besok pagi
Arya berniat nekat mendatangi kos-kosan Dewi, datang kembali bersama penyesalan
dan cinta terbesarnya untuk Dewi.
J J J
Pagi itu matahari belum terlihat Arya
sudah pergi tanpa sepengetahuan Sigmin, mencopot paksa jarum infus ditangannya
dan pergi melangkah dengan tenaga yang tersisa untuk menemui Dewi. Sesampainya dikos-kosan
Dewi Arya tidak menemukan apapun, kosannya terkunci tidak ada orang teman satu
kos Dewi yang dulu pun tidak ada disana. Arya belum putus harapan dia kembali kekampus
menemui teman satu kos Dewi yang setau Arya belum tamat dari kampus itu. Sayangnya
Arya juga tidak menemukannya. Masih belum padam rasa keingintahuan Arya dimana
Dewi, Arya kemudian menemui Eka sahabat Dewi yang sudah dari SD sampai kuliah
pun mereka tetap bersama.
Arya tertatih-tatih menemui Eka
seperti Dewi yang tertatih-tatih melupakan Arya. Untunglah Arya menemukan Eka
dikantor tempat kerjanya. Eka yang begitu membenci Arya setelah apa yang
dilakukannya pada Dewi sahabatnya, tapi Eka berusaha bersikap tenang
didepannya.
“ Ekaa,.
Untung lah aku menemukan mu, Eka tolong beritahu aku dimana Dewi sekarang.,”
pinta Arya memohon.
“Aku tidak
tahu.,” jawab Eka singkat
“ Ekaaa., aku
mohon kamu pasti tahu dimana Dewi, aku mohon kaa., aku mohon., aku tau kamu
membenci ku sekarang tapi setidaknya beri aku kesempatan terakhir untuk
membuktikan aku mencintai Dewi kaa, aku menyesal.,” rintih Arya dengan nada
memohon dan tangisan. Eka kasihan melihat kondisi Arya dan akhirnya membawa
Arya pada Dewi.
“ baiklah,
ayo ikut aku” perintah Eka, Arya menurut dan mengikuti Eka.
Eka berhenti pada satu rumah yang
terlihat sederhana yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Mempersilahkan Arya
masuk dan menutup kembali pintu rumah itu, tidak ada siapa-siapa disana, tidak
ada Dewi. Kemudian Eka menaiki anak tangga diikuti dengan langkah Arya, Eka
berhenti pada satu kamar didekat tangga.
“ bukalah “
perintah Eka pada Arya menyuruh Arya masuk kedalam kamar itu. Apa sebenarnya
yang terjadi pikir Arya, perlahan Arya membuka daun pintu itu, terlihat
seseorang yang sedang duduk dikursi roda dengan mata yang memandang kearah
jendela melihat kesibukan kota itu. Entah itu lelaki atau perempuan karena
arahnya membelakangi Arya dengan kepala yang botak tidak berambut. Bukankah Eka
akan mempertemukan aku dengan Dewi bukan dengan lelaki botak ini pikir Arya, Arya
masih tercengang didepan pintu kamar itu Eka melihat kebingungan diraut wajah
Arya, Eka pun masuk kekamar itu dan memeluk orang yang botak yang duduk dikursi
roda itu sembari berkata.
“ Sahabat
ku., ada yang ingin menemuimu”
kemudian Eka
menyuruh Arya mendekat “mendekatlah”.
Arya mendekat dan melihat orang yang botak itu adalah Dewi, Arya kaget dan
pertanyaan bertimbulan diotak Arya dan Eka mencoba menjelaskan semua yang
terjadi pada Dewi setelah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Arya.
“ hari itu
dia menangis menemuiku, menceritakan semua tentang perasaan sakitnya yang ia
dapat dari kamu Arya, apa kamu tau begitu tulusnya Dewi mencintaimu, apa kamu tau
Dewi yang menyelamatkan nyawa mu, apa kamu tau Dewi adalah pendonor darah itu,
apa kamu tau hancurnya Dewi saat itu ketika perempuan simpanan mu si Tasya itu
mengatakan bahwa kalian sudah tunangan. Dimana otak mu Arya., dimana hati mu.,”
Eka menangis menceritakan nya, terlihat bulir-bulir air mata jatuh
menggelinding dipelupuk mata Dewi, begitu juga Arya yang menagis mendengar
penjelasan Eka, dengan tangan yang lemah Arya berusaha mengusap air mata Dewi
yang membasahi pipinya dengan perlahan. Dan Eka melanjutkan ceritanya lagi.
“ belum lagi
hilang sakit yang kamu beri untuknya Dewi juga harus menanggung sakit kepergian
orangtuanya yang kecelakaan tabrak lari ketika ingin menjenguk Dewi dirumah
sakit, Dewi sakit kanker otak Arya., penderitaan dan sakit itu silih berganti
menghampirinya, tapi kamu dimana., kamu bahagia tanpa menegenang Dewi. Tapi apa
kamu tau Arya dengan keadaan sekarat begini Dewi masih saja bodoh memikirkan
mu, menunggu mu datang padanya, aku selalu marah ketika Dewi mengingatmu. Belum
pernah ku temui seseorang seperti Dewi tulusnya dalam mencintai” Eka tak
sanggup menceritakan segalanya karna isak tangisnya.
“ apa kamu
tau Arya sekarang Dewi stadium akhir” Eka menangis dengan keadaan yang harus
dilalui sahabatnya. Yang kemungkinan besar tak berapa lama lagi Eka akan
kehilangan Dewi.
Arya menunduk dan menyandarkan
kepalanya pada pangkuan Dewi, menangis terisak menggenggam tangan Dewi yang
lemah itu seraya berkata,
“Pesyek
kemana selama ini, aku cari pesyek tapi nggak ketemu, apa pesyek tau aku
merindukan mu, sangat merindukan mu. Aku menyesal udah sia-siain kamu, aku baru
tau apa itu cinta yang tulus dan cinta semu, maafin aku.. aku mohon maafin aku
“ Arya menangis menandakan takut kehilangannya pada Dewi, seperti Dewi yang
berlari menemui Arya dirumah sakit karna kecelakaan kemarin. Sekarang keadaan
sudah berbalik.
Dengan tenaga yang masih tersisa Dewi
mencoba berkata walaupun tertatih-tatih.
“aku udah
maafin kamu, kenapa kamu kesini, mana Tasya.?? Seharusnya kamu kesini dengan asya
dan juga anak mu, pasti anak kalian lucu-lucu kan, tolong telfon dan suruh
mereka kesini.,” pinta Dewi
“ nggak ada
Tasya dan juga anak-anak lucu, Tasya meninggalkan ku dan pergi dengan lelaki
lain, seharusnya pernikahan kami bulan ini tetapi dia mengahncurkan semuanya,
aku membencinya.” Ujar Arya
“ apa kamu
ingat, jika pun aku nikah itu dengan kamu, dan jika pun aku punya anak yang
lucu aku ingin anak itu lahir dari rahim kamu., maafin aku udah hancurkan cinta
dan impian kamu maafin aku.,” lanjut Arya dengan rintihan memilukan.
“ Aku yang minta maaf disaat kamu terpuruk
begini aku tak sanggup untuk menggenggam tangan mu lagi, karna kelemahan ku aku
tak mampu untuk memberi mu kekuatan.”
“Berhentilah
memikirkan diriku, seharusnya aku nggak pantas dapatkan ketulusan sebesar ini
dari kamu, katakan apa yang harus aku lakukan supaya bisa membalas rasa sakit
kamu selama ini sayang.,?? katakan,.??”
“Bisakah
kamu untuk tidak mengganggu kehidupan ku seperti aku pergi dari kehidupan mu,
bisakah kamu benar-benar pergi, apa kamu tau betapa sakitnya aku melupakan mu
dan sampai diakhir maut ku pun aku tak pernah bisa, bisakah kau membantuku
untuk melupakan mu” pinta Dewi menangis sakit.
“Dewiii..
kamu ngomong apa sih aku nggak ngerti, nggak bisakah kamu kasi aku kesempatan
satu kali lagi Wii, satu kali lagi dan aku janji berusaha nggak buat kamu
menangis lagi, maafin aku, aku mohon kasi aku kesempatan untuk perbaiki ini
semua Wi.,”
Tiba-tiba
darah mengalir dari hidung Dewi, Arya yang sebelumnya tidak pernah melihat Dewi
sesakit ini begitu panik, Dewi menyeka darah yang mengalir dihidungnya dengan
tenaga yang masih tersisa dan kemudian pemandangannya gelap dan bergoyang-goyang
lalu pingsan. Eka dan Arya begitu panik dan segera membawa Dewi kerumah sakit.
J J J
Dua jam berlalu mereka dirumah sakit
tapi Dewi belum juga sadar dari pingsannya dan masih berada diruang UGD. Arya syok
ketika dokter seenaknya memvonis hidup Dewi tinggal sebentar lagi, ingin
rasanya Arya memberiakan seluruh nyawanya pada Dewi tapi itu mustahil. Penyesalan
lah yang sekarang tersisa dihatinya, andai ia tidak meninggalkan dewi dan
bersamanya pasti ini tidak akan terjadi, entah lah yang pasti itu lah yang
sekarang yang ada dipikiran Arya.
Kakinya tertatih lesu memasuku ruang
tempat Dewi dirawat, terlihat oleh mata kepalanya sendiri orang yang
mencintainya setulus hati harus berbaring lemah di rumah sakit. Tangannya
berusaha menggenggam erat jari jemari kekasihnya, mencuimnya penuh cinta,
dijari manis Dewi masih melingkar cincin yang pernah Arya kasi dihari pertama mereka
jadian dan sementara Arya sudah membuang cincin itu yang sekarang terlingkar
dijarinya adalah cincin pertunangannya bersama Tasya.
Arya mencoba membangunkan Dewi dari
tidurnya yang tak kunjung bangun juga.
“Heeii.. cewek nakal, bangun.. kenapa
masih tidur padahal aku disini, Ayoo bangun aku mau lihat kamu senyum hari
ini.,” ujar Arya perlahan dalam isak tangis, berkali-kali ia menghapus air
matanya tapi berkali-kali juga jatuh. Namun Dewi tak jua bangun dari tidurnya,
Arya merebahkan kepalanya dibahu Dewi yang terbaring lemah itu dengan perlahan,
memeluknya dengan rasa sayang dan penuh rasa takut akan kehilangan untuk kedua
kalinya. Arya tertidur dengan kesedihan yang mendalam dibahu Dewi.
Beberapa menit kemudian Dewi terbangun
dari tidurnya dan disadarinya bahwa Arya tertidur dibahunya, Dewi mengusap
rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Eka yang menyadari Dewi bangun
dari pingsannya ingin memanggil dokter tapi dewi mengisyaratkan untuk tidak
memanggil dokter. Eka mengerti bahwa Dewi tidak ungin diganggu sebentar saja
untuknya bersama Arya. Dewi meminta kertas dan pulpen pada Eka, menuliskan
sesuatu untuk Arya.
“Mungkin aku
tidak akan pernah bangun lagi, Aku mencintaimu sampai maut menjemputku, Jaga
Selalu Hati Mu untuk hati yang kau cintai seperti aku ynag menjaga hatiku untuk
mu sampai aku menutup mata”.
Dewi menyelipkan sepotong surat itu
digenggaman tangan Arya. Tersenyum bahagia melihat Arya ada disampingnya yang
tertidur nyeyak, tiba-tiba Dewi merasa sesak dan dari hidungnya keluar darah,
pemandangannya gelap lagi, sekelilingnya serasa bergoyang-goyang, semua dinding
berwarna putih itu tak terlihat lagi olehnya, rasa sakit dikepalanya makin
menjadi-jadi dan batuk mengeluarkan darah, Arya terjaga dari tidurnya dan panik
melihat Dewi. Arya ingin berlari memanggil dokter tapi Dewi menahannya seraya
menangis menahan rasa sakitnya.
“ Dewiii..” Arya menangis melihat
kekasih Hatinya kesakitan. Dengan penuh kekuatan dewi mencoba tersenyum
menyakinkan Arya bahwa semua kan baik-baik saja. Arya yang melihat senyum Dewi
juga tersenyum meyakinkan Dewi bahwa semua akan kembali seperti semula. Arya
mengusap airmata Dewi dan Darah dimulut dan Hidungnya seraya menagis terisak.
Dewi menarik nafas panjang dua kali
dan kemudian angin singgah lalu pergi bersamaan dengan nafas Dewi. Alat pendeteksi
jantung Dewi terhenti dan berbunyi bahwa jantung Dewi tak berdetak lagi. Mata sayu
Dewi terpejam, bibirnya menyinggungkan senyum. Wajah cantiknya tak hilang meski
jantungnya terhenti, cintanya tetap hidup meskipun raganya sudah mati. Arya baru
tersadar bahwa orang yang dihadapannya sekarang sudah pergi jauh
meninggalkannya. Menjerit lidahnya terasa kelu, menangis airmata nya pun sudah
kering. Hanya bisa menatap wajah yang tertidur pulas itu dengan penuh kebisuan.
Menyadari bahwa ada sesuatu digenggaman tangannya Arya membuka dan membacanya,
tersadar olehnya bahwa maut menjemput pun Dewi masih membanjirinya dengan
cinta. Hidup dengan penyesalan dan cinta yang masih belum terbukikan dengan
kebahagian. Setidaknya diakhir cerita cintanya ia mendapati kekasihnya
tersenyum untuknya.
Terimakasih cinta.. terimakasih
ketulusan yang kau beri untuk ku, hingga sampai sekarang cinta mu hidup dihati
ku yang menjadi satu dalam raga ku. Aku tak akan pernah menemukan sosok dirimu
pada diri yang lain. Cinta mu mempenjarakan ku walaupun kau sudah tiada hingga
sampaI sekarang aku belum bisa menggantikan sosok dirimu dihatiku. Tak akan ada
seperti mu. I love you Rindu.
*kisah ini
dikutip dari kisah yang nyata.
S E L E S A I

0 komentar:
Posting Komentar