Sabtu, 03 Desember 2016

21.00 - No comments

Jaga Selalu Hatimu


Nama Pengarang   : Khairani Arrahma #KA

 
“CINTA” Adalah sepatah kata yang bisa membuat seseorang bahagia, tak  jarang membuat kita menderita. Maka jangan katakan cinta jika hanya ingin membuat perasaan orang lain terluka, karna sesungguhnya cinta itu anugrah terindah yang diberikan sang khalik kepada semua insan.
          Satu hubungan percintaan hancur karna perselingkuhan dan kebohongan yang ada di dalamnya, cinta bukan mainan belaka tapi cinta adalah rasa yang dimiliki setiap orang yang tak bisa untuk dipermainkan, begitu juga yang ada pada kisah yang tertulis disini. Hanya ada orang ketiga dalam hubungan mereka.
          Terlihat sepasang bola mata perempuan itu yang bernama Dewi Anggira, seseorang yang ia cintai berada ditaman indah jakarta itu bersama seseorang perempuan yang duduk disampingnya bercanda gurau bersama. Sangkaan gadis manis berambut hitam sepinggang itu mulai tak beraturan, dalam diam ia bergumam dalam hatinya..
          “Aryaa..kamu tega, kamu selingkuhin aku, apa kurangnya aku” Dewi tak tahan dengan apa yang terlihat didepan matanya ia pun menangis sembari melangkah pergi jauh dari dimana ia melihat kekasihnya bersama wanita lain.
          “Arya, nanti kita pulang bareng ya.??” Ajak Tasya sigadis mentel yang imut itu yang duduk bersama Arya ditaman indah jakarta itu.
          “Eeemmhh..gimana ya..??” Arya berpikir sejenak tentang Dewi.
          “Yee,,pake acara mikir segala buat pusing tau, kegini aja ya..aku gak tau menau nanti aku tunggu didepan pintu gerbang kampus ya..daaaa.” Tasya sigadis mentel itu pergi meninggalkan Arya sendiri yang terpakur memikirkan segalanya.
          Sementara Dewi tergesa-gesa berjalan menuju pintu gerbang kampus Universitas Gadjahmada itu. Sekali lagi ia melihat pemandangan yang merusak penglihatannya. Arya sicowok ganteng tapi genit itu masuk mobil bermerek avanza bersama wanita yang duduk bersamanya ditaman indah jakarta tadi. Dewi terus memperhatikan mereka, tanpak oleh Dewi Arya menelfon ketika ingin masuk mobil tapi entah siapa yang ditelfonnya itu, tiba-tiba handphone nokia 310 Dewi berdering buru-buru ia mengambil handphone didalam tasnya. Terlihat olehnya panggilan masuk “A R Y A” Dewi mengangkat sambungan itu.
          “Hallo sayang..” sapa Arya diseberang sana
          “Ya..ada apa sayang.?” Dewi mencoba bersikap tenang saat amarah menggumpal dihatinya.
          “Eeemmhh..sepertinya aku hari ini gak bisa pulang sama kamu sayang..soalnya tugas aku numpuk nih..maaf ya sayang” ujar Arya berbohong dan Dewi mengetahui kebohongan itu.
          “Ya..gak apa-apa..kamu sekarang dimana.??” Tanya Dewi
          “Aku diperpus nih sayang..” ujarnya sekali lagi berbohong padahal Arya sekarang diparkiran pas terlihat didepan mata Dewi sekarang.
          “Aku kesana ya..?? lagian aku hari ini gak ada tugas jadi aku bisa bantu tugas kamu yang numpuk” ujar Dewi terus yang ingin mengetahui samapai dimana Arya terus membohonginya.
          “Eeemmhh..lebih baik gak usah deh sayang..nanti kamu kecapekan lagian aku bisa sendiri kok ngerjain tugas ini mendingan kamu pulang aja ya sayang istrahat yang cukup..oke sayang..daa..i love you” kilah Arya dengan cepat arya memutuskan telfon itu.
          Terbayang tidak bagaimana sakitnya hati Dewi saat itu, banyak kata yang ingin ia ungkapkan namun semua kata-kata itu tertahan dan menyesaki dadanya, hanya air mata yang bicara pada saat itu.
                                                    J J J
          Malam telah menyingsing keheningan malam mulai menyapa,tangisan luka Dewi belum juga kering, deringan handphone nokia 310 Dewi berbunyi panggilan dari Arya sudah 3 panggilan tak terjawab Dewi merasa enggan mengangkat telfon darinya tak berapa lama kemudian pesan Arya masuk, Dewi meraih handphone nya yang terletak tepat disampingnya ia duduk dan membaca isi pesan itu.
“sayank kenapa telfon aku gak diangkat sms aku juga gak dibalas,knapa..??”
          Jari jemari Dewi mulai menari diatas tombol-tombol abjad ABCD-Z yang terpisah pisah di keyboard handphonenya dengan membalas pesan Arya.
“Aku mau kamu jangan ganggu aku buat sementara waktu ini.. aku butuh ketenangan dalam diri aku, besok temui aku dikantin jam istirahat..” sekian pesan yang Dewi kirim untuk Arya.
          Arya bingung dengan keadaan yang membuat nya bingung, ada apa sebenarnya dengan Dewi, kenapa sikapnya begitu dingin tidak seperti biasa. Namun disisi lain Arya juga mencintai Tasya, gadis yang berhasil mencuri hatinya. Entah lah, ada apa sebenarnya dengan kisah percintaan yang rumit ini.
          Sigmin teman sekampus Arya dan juga teman satu kos nya melihat kebingungan pada diri Arya, Big equation ???? tapi Sigmin sendiri tidak tahu apa yang ada dipikiran Arya. Belum lagi habis dari pikiran Sigmin tentang masalah yang dihadapi Arya, Arya memulai untuk bicara pada Sigmin yang mugkin akan ada jalan penyelesaiannya tentang yang ia pikirkan saat ini.
“Min, menurutmu Dewi apa Tasya.?” Tanya Arya.
“Maksud mu.,??” Sigmin bingung.
“ Yaa Min, aku kacau akhir-akhir ini , aku bersama Dewi tapi aku juga ingin bersama Tasya,”
“ jangan serakah bro, pilih satu jika itu menurut mu yang terbaik, jika tidak kau akan kehilngan keduanya.”
“ aku tidak bisa menentukan pilihan diantara keduanya Min, aku mencintai dua hati “
“ kau bukan mencintai dua hati tapi serakah ingin memiliki dua hati itu, apa kau tau Dewi yang akan lebih terluka diposisi ini, dia tidak hanya dibohongi oleh mu tapi juga dikhianati, diduakan, dikecewakan dan tanpa kau sadari kau sudah menyakiti satu hati, sementara Tasya dia hanya merasakan sakitnya dibohongi tapi tidak diduakan, pikir bro      Sigmin sedikit menceramahi Arya, setidaknya mereka sudah lama bersahabat. Arya terdiam dengan kata-kata Sigmin, benar juga apa yang dikatakan Sigmin. “Tapi haruskah aku memutuskan Dewi hanya karna Tasya yang baru ku kenal.?? Haruskah aku meninggalkan Tasya demi Dewi, gadis yang sudah lama ku kenal dan selalu ada disetiap susah senangnya hidup ku”. Arya terpakur memikirkan segalanya.

                                              J J J
          Pagi ini Dewi menunggu Arya untuk menjemputnya dan pergi kekampus bareng sepertia biasa, tapi kenapa pagi ini Arya tidak menjemput Dewi. Dewi tidak bisa menunggu lagi, jam masuk kampus sudah sebentar lagi dengan cepat Dewi melangkah berangkat kekampus, sudah 1 jam dia menunggu tapi Arya tidak kunjung datang.
          Sesampainya digerbang kampus Dewi melihat Arya membonceng perempuan yang mengobrol dengannya ditaman semalam dengan sepeda motor kerennya itu berlagak seperti orang yang ganteng sedunia. Yaa.. itu dimata Dewi, Arya adalah lelaki sempurna, baik, keren dan juga romantis. Tapi dunia sudah membuka mata Dewi lebar-lebar bahwa Arya buka lah yang terbaik, Dewi salah menilainya selama ini. Namun kekuatan cinta Dewi mengalahkan semuanya, bahwa apa yang dilihatnya semua itu hanya mimpi buruk yang tidak akan pernah nyata walaupun sebenarnya Dewi sendiri tak bisa menyangkal bahwa itu nyata adanya.
          Perjanjian tetaplah harus ditepati, selesai pembelajaran dikelas Dewi melangkah pergi kekantin untuk bertemu Arya memebicarakan hubungan yang nyaris putus ini. Jam istrahat hanya 15 menit tapi sudah 10 menit Dewi menunggu Arya tidak juga datang, sebentar lagi jam masuk kuliah akan tiba. Akhirnya Dewi memutuskan untuk pergi, Arya juga tidak menghubunginya. Apalagi sekarang yang diharapkannya dengan hubungan ini, semua sudah berakhir.
J J J
            Semenjak Arya melupakan pertemuan dikantin kampus semenjak itu pula arya tidak pernah menghubungi Dewi lagi dan ini sudah seminggu lamanya, Dewi berusaha menghubunginya tapi tak pernah ada respon dari Arya. SMS, telfon, BBM, line, inbox facebook, WA, semuanya Dewi gunakan untuk menghubungi Arya tetap tidak ada respon. Terbayang tidak bagaimana sakitnya ditinggalkan tanpa alasan jika pun alasan itu sendiri Dewi sudah mnegetahuinya tapi belum jua jelas baginya masih banyak pertanyaan yang menyelimuti hatinya untuk Arya.
          Siang itu tanpak mendung Dewi melangkah cepat memasuki perpustakaan untuk mencari buku refrensi dari makalah yang direvisi. Tiba-tiba handphone Nokia 310 nya berbunyi dengan cepat Dewi merogoh tasnya untuk mengangkat telfon itu dengan harapan yang menelfon adalah Arya, Dewi sengguh merindukannya walaupun dengan apa dibuat Arya selama ini. Bukan, bukan dari Arya ternyata tapi dari Sigmin, tapi ada apa sigmin menelfon tiba-tiba,.?? Apa ini tentang Arya,.??
“ Hallo wi, kamu dimana, ini aku Sigmin.” Ucapnya dari seberang sana dengan nada khawatir.
“ yaa.. aku diperpus, ada apa min., semua baik-baik aja kan,.??” Dewi mencoba menenangkan keadaan.
“ Arya wi, Aryaa..??”
“ Arya..?? Arya kenapa min Arya kenapa.??”
“ Arya kecelakaan.”
“ Apaaa..??” ujar Dewi syok, sekian lama ia menunggu kabar tentang Arya harus kah yang datang kabar seburuk ini.
“ Arya dimana sekarang min, dimana ?” tanya Dewi lagi sembari tanpa sadar air matanya menetes.
“ Dirumah sakit wi, rumah sakit CintaMedika” Sigmin mencoba memberi tahu.
          Dewi memutuskan telfon begitu saja, berlari keluar perpustakaan menuju rumah sakit dengan hujan diluar yang deras Dewi tak merasakan butiran-butiran itu mengenai tubuhnya, butiran air hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Kepanikan yang luar biasa yang dirasakannya. Ooohh tuhan cinta gila apa ini yang dirasakan Dewi sekarang untuk orang yang tidak pernah melihat cinta sebesar ini. Kenapa cinta setulus itu harus jatuh pada orang yang salah, tidak.. cinta tidak pernah salah, bukankah begitu,.??
          Dalam waktu 20 menit Dewi sudah sampai dirumah sakit dengan sepeda motor yang didapatnya diparkiran beserta kuncinya. Entahlah Dewi sendiri tidak tahu itu sepeda motor siapa yang pasti Dewi sudah sampai kerumah sakit sekarang. Terlihat oleh Dewi Sigmin tertunduk lesu didepan ruang UGD. Dewi mencoba menghampiri Sigmin dengan berharap mendengar kabar baik tentang Arya.
“ Min.??” Dewi memanggil Sigmin
“ Dewi..?” Sigmin kaget dengan keberadaan Dewi yang tiba-tiba sudah dirumah sakit dengan basah kuyup karna hujan, bibir yang pucat karena kedinginan.
“Gimana keadaan Arya min.,?? dia baik-baik aja kan” tanya Dewi dengan nada khawatir, air mata yang jatuh menandakan dewi begitu takut kehilangan Arya.
          Baru saja mulut Sigmin ingin memberitahukan keadaan Arya pada Dewi tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan perempuan yang juga khawatir tentang keadaan Arya. Sigmin tercengang dengan keadaan ini padahal dia tidak memberitahu siapa-siapa tentang keadaan Arya kecuali Dewi dan orang tua Arya yang kemungkinan sekarang masih ada diperjalanan menuju rumah sakit.
“ Tasya.,??” ujar Sigmin kaget.
“ Yaa.. gimana keadaan Arya min., apa semua baik-baik saja, seseorang mengupload foto difacebook dengan status ada orang kecelakaan dan aku lihat plat BK sepeda motor Arya.,” beritahu Tasya.
          Belum lagi habis keheranan Dewi dengan perempuan yang barusan datang itu dokter keluar memberitahu bahwa Arya kritis dan banyak mengeluarkan darah, jika Arya tidak dapat pendonor darah saat ini mungkin dia tidak akan tertolong dan stok darah dirumah sakit tidak ada yang cocok dengan darah Arya. Dewi menangis tanpa suara sementara peremupuan itu adalah perempuan yang sering bersama Arya belakangan ini dan semenjak itu Arya menghilang dari Dewi tanpa kabar.
          Tiba-tiba dokter menanyakan lagi.
“ Apa ada disini anggota keluarga dari saudara Arya.?”
“ Saya dok., saya tunangan arya” Tasya mengaku.
“Baiklah kalau begitu mari ikut saya,.” Dokter mengajak keruangannya untuk memberitahu kedaan Arya lebih detail lagi.
          “Apaaa.. tunangan” gumam Dewi. Dewi lumpuh sejenak mendengar pengakuan dari Tasya, haruskah sesakit ini keadaan yang dilalui Dewi. Dewi menangis terisak dengan semua keadaan yang menyakitinya saat ini, tidak menyangka semua akan sesadis ini. Sigmin sangat mengerti dengan keadaan Dewi, Sigmin juga sangat menyayangkan dengan pilihan Arya yang jatuhnya pada Tasya sedangkan Sigmin sendiri melihat ketulusan dari Dewi. Cinta mempunyai kekuatan masing-masing. Cinta mempunyai sudut pandang yang berbeda.
          Setelah Tasya keluar dari ruangan dokter Dewi pun masuk menanyakan tentang Arya. Dewi tak menghiraukan Sigmin ketika bertanya mau kemana.
“Wii.. kamu mau kemana wii., itu semua bohong wii., Arya gak tunangan dengan Tasya wii, Tasya bohong wi., dengarkan aku wii., Dewiii..??” sigmin mencoba menetralkan suasana tapi semua Big Eqution bagi Dewi. Dewi pergi melangkah lesu tanpa mendengarkan Sigmin.
“ Dok., saya Dewi Anggira teman dari Arya, saya mau mendonorkan darah untuk Arya.” Ucapnya.
“ oohh anda datang pada saat yang tepat, baiklah mari ikut saya.” Ajak dokter.
          Dokter memeriksa Dewi disebuah ruangan dan kemudian mengambil darah Dewi, Dewi begitu pucat setelah darahnya diambil. Ini semua untuk Arya, ini adalah hal terakhir yang dilakukan Dewi untuk Arya. Selepas ini Dewi akan pergi jauh dari Arya, melupakan semuanya tentang Arya. Melupakan semua tentang cinta yang bukan untuknya, melupakan semuanya hingga tak ada yang tersisa lagi.
          Setelah Dewi mendonorkan darahnya ia tertidur lemah dirumah sakit tempat dia berbaring saat dokter mengambil darahnya. Satu jam Dewi tertidur disana, Dewi terjaga dari tidurnya saat mimpi buruk mengahampirinya bahwa Arya akan pergi meninggalkannya. Dewi menangis terjaga dari tidurnya, bangun dan pergi dari rumah sakit. Sebelum Dewi pergi dia melihat Arya walau dari kaca pintu ruangan tempat arya dirawat, disana ada Tasya, ada orang tua Arya dan juga Sigmin sahabatnya. Arya bahagia dengan orang-orang disekelilingnya sekarang yang menyayanginya. Dewi juga menangis haru saat melihat Arya bangun dari komanya dan melihat senyumnya, itu semua udah cukup bagi Dewi.
          Dewi menyeka air matanya yang jatuh tak terbendung dengan isak suara yang terdengar sakit, saat Dewi melangkah pergi Sigmin memanggilnya lirih dengan nada sedih melihat kondisi Dewi.
“ Dewiii,.?”
          Dewi hanya diam dan menatap Sigmin dengan butiran air mata yang jatuh, dengan isak tangis yang terdengar pilu.
“ Benar kan min., dia udah tunangan dan bahagia dengan pilihannya sekarang, aku ikut bahagia min,. Aku akan pergi min., pergi dari kehidupannya aku akan berusaha melupakan semua tentang dia min.,” ujar dewi terisak menangis.
“ Maaf wii, aku juga gak tau akan jadi seperti ini, biasa Arya akan cerita tentang apapun itu tapi semenjak mengenal Tasya kami hampir tak pernah komunikasian lagi walaupun kami satu kos, dan bahkan aku menanyakan ada apa dia hanya menjawab bahwa semua baik-baik saja,”
“ bisakah kau menunggu ku sebentar min., ada hal yang ingin aku sampaikan pada Arya tapi tidak secara langsung”
“ apa itu,.?” Tanya Sigmin.
“ surat “ jawab Dewi singkat.
          Dewi mengambil pena dan kertas binder dari tasnya. Menuliskan sesuatu untuk Arya, entahlah Sigmin sendiri tidak tahu apa yang ditulis Dewi untuk Arya. Setelah selesai menulis Dewi memberikannya pada Sigmin dan berpesan agar memberikan surat itu pada Arya.
“ Min., tolong berikan surat ini pada Arya, dan jangan beritahu siapapun bahwa aku pendonor darah untuk Arya, maaf min hanya ini hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk Arya”
          Dewi melangkah pergi meninggalkan Sigmin yang terpakur memikirkan segalanya yang menurutnya ini semua tidak habis fikir. Walaupun diakhir ceritanya bersama kekasih yang tak melihat ketulusannya ia masih mampu menyelamatkan nyawa kekasihnya walaupun ia tau bahwa ia yang akan hancur bersama cintanya.

J J J
          Satu tahun setelah Dewi pergi dari semua cerita yang menyakitinya dan cinta yang bukan untuknya semenjak itu pula Arya tidak pernah terfikir tentang Dewi seseorang yang sudah 2 tahun bersamanya. Begitu juga Sigmin, Sigmin tidak pernah bertemu dengan Dewi lagi, terakhir kali Sigmin melihat Dewi satu tahun yang lalu dirumah sakit dengan surat yang ia titipkan pada Sigmin, Sigmin juga tidak pernah melihatnya dikampus lagi. Kemana sebenarnya Dewi,.??
          Bulan depan adalah penetapan tanggal dimana pernikahan Arya dan Tasya. Arya begitu sibuk dengan persiapan pernikahannya begitu juga Tasya. Semua terlihat bahagia semenjak kepergian Dewi dari kehidupan Arya. Dan semua terlihat baik-baik saja. Namun kebohongan tetaplah kebohongan, kebohongan Tasya pada Arya bahwa Tasya sebenarnya sudah punya pilihan hati bernama Robby, Tasya dan Robby menjalani hari layaknya sepasang kekasih dibelakang Arya. Permainan cinta yag dimainkan Tasya membuat luka dan cidera parah pada bagian hati Arya. Namun semua belum lagi terungkap.
          Permainan ini begitu diluar akal pikiran jika melihat cinta Tasya dan Arya yang sebentar lagi menuju kepernikahan yang berarti lebih serius lagi. Sekenario tuhan memang luar biasa untuk makhluknya  yang semuanya tidak dapat diduga. Malam ini Arya sengaja tidak memberitahu Tasya bahwa dia akan datang kerumah Tasya yang kebetulan orangtua Tasya sedang berpergian keluar kota. Dengan membawa setangkai mawar untuk Tasya, Arya melangkah mendekati pintu rumah Tasya dan berharap Tasya akan kaget dengan keberadaannya dengan memberikan supraice pada Tasya.
          Arya mengetuk pintu rumah Tasya dengan perasaan bahagia, dan seseorang membukanya, seseorang yang bukan Tasya tapi lelaki dengan busana tanpa baju dan hanya memakai celana boxer. Arya bingung denga keadaan ini setau Arya Tasya tinggal bersama orangtuanya tanpa ada pembantu, Tasya juga anak satu-satunya, Tasya juga tidak punya abang sepupu atau saudara laki-laki yang tinggal bersama keluarganya. Tiba-tiba Arya mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
“ sayaaaang.. siapa sih yang datang” suara lembut Tasya memanggil lelaki tanpa busana ini sayang, Tasya berlari kecil melihat kedepan siapa yang datang dan memeluk lelaki tadi. Tasya yang demikian sama pakaiannya hanya memakai tentop dan celana pendek ketat memeluk lelaki itu.
          Arya lumpuh seketika melihat apa yang didepannya, begitu juga dengan Tasya yang kaget melihat Arya datang kerumahnya. Lidahnya kelu ingin memaki Tasya dengan apa yang dilihatnya barusan berduaan dirumah dengan pakaian seperti itu. Tak terbayangkan oleh Arya apa saja yang mereka lakukan, bunga mawar merah jatuh dari tangannya yang lunglai melihat kekasih yang ia cintai menghianatinya.
“ Aryaaa.. aku bisa jelasin semuanya., ini gak seperti yang kamu lihat” Tasya mencoba menjelaskan dengan kebohongan selanjutnya, tapi Arya tidak ingin mendengarnya lagi.
“ cukup Tasyaa.. ini semua udah cukup menjelaskan kalau kamu memang bukan perempuan yang baik, seharusnya aku sadar dari dulu hanya karena mulut busuk mu kamu menyuruh aku meninggalkan Dewi, menyakitinya, itu semua karna kamu dan ini balasan yang kamu beri ke aku setelah aku korbankan semuanya, aku salah menilaimu dan aku salah memilih mu, padahal kamu tau aku mencintaimu lebih dari apapun itu dan sebentar lagi hari pernikahan kita, apa yang kamu pikirkan Tasya.,??” Arya syok melihat kejadian yang dialaminya ini.
“tapi aku nggak pernah mencintai kamu Arya, aku bersamamu hanya karena hari itu Robby meninggalkan ku karena wanita lain dan sekarang Robby udah kembali, dia menyesal udah tinggalkan aku, aku juga masih mencintainya. Kamu yang bodoh Arya kamu bodoh nggak bisa melihat mana itu cinta dan yang mana itu mainan”
“ okeee.. aku memang bodoh., bodoh mempercai wanita jalang seperti kamu, busuk, gak ada hati” amarah Arya memuncak dan seketika itu satu pukulan mendarat kewajah Arya. Robby memukul Arya berkali-kali karena menghina kekasihnya Tasya. Setelah babak belur dipukuli, Tasya dan Robby masuk kerumah tanpa memperdulikan Arya yang hampir mati karena pukulan.

J J J
          Karma, yaa.. karma masih berlaku bukan.,?? malam itu begitu penuh kejutan bukan.,?? kejutan yang perfect. Disela-sela kesakitannya dengan kejadian pilu yang menimpanya Arya teringat akan sosok Dewi, Arya begitu sangat menyesal pernah menyia-nyikannya. Malam itu Arya tidak pulang kerumahnya melaikan kekos lamanya menemui Sigmin sahabat yang sudah lama Arya tidak mendengar kabarnya. Arya tidak yakin akan menemukan Sigmin dikos-kosan lama mereka tapi dugaan Arya salah, Sigmin masih disana dan membukakan pintu ketika Arya mengetuknya. Sigmin terkejut dengan kedatangan Arya yang semeraut dan babak belur.
“ ada apa Arya., kamu kenapa babak belur begini bro,.?” Tanya Sigmin tapi Arya menjawabnya dengan tangisan. Sigmin makin bingung dengan keadaan Arya. Kemudian Arya menceritakan semuanya, semua yang membuat ia menangis dan terluka parah dibagian hatinya. Sigmin mengerti dengan keadaan dan penyesalan Arya.

          Sigmin kemudian memberikan surat pada Arya dari Dewi, ternyata Sigmin belum memberikannya Sigmin menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya pada Arya. Arya tercengang menerima surat itu, perlahan membacanya hurup demi hurup, disana tertulis dengan indah...
 
"Arya kekasih ku,.
Yang cintanya melekat dalam diriku menjadi satu dalam jiwaku, yang tidak akan mungkin hilang begitu saja walau beribu luka sudah kau lukiskankan untuk ku., maaf jika aku meningalkan mu tapi kepergian ku pun demi bahagia mu bersama tasya, wanita yang kau temukan lebih baik dari ku, aku ikhlas. Aku bahagia melihat mu bahagia saat ini karena aku tak bisa memaksa mu untuk tetap bersama ku sementara aku melihat dimatamu cinta untuk tasya bukan untukku. Ingatlah sampai kapanpun rasa ku ini takkan berubah walaupun akhirnya kita pisah. JAGA SELALU HATI MU untuk cinta yang kau miliki sekarang.
Dari dewi untuk Rinduku Arya."

          Tubuh Arya makin lemah lunglai dengan kata-kata disurat Dewi seakan menyihirnya sampai menangis tanpa suara. Tiba-tiba Arya jatuh dan tak sadarkan diri. Sigmin panik dan cepat membawa arya kerumah sakit. Pukulan yang diterima Arya dari Robby kekasih Tasya cukup serius lain lagi sihir dari kata-kata Dewi membuat semuanya terasa berat untuk Arya lalui sendiri. Setelah dua jam tak sadarkan diri Arya bangun dari tidurnya melihat ia bukan dikos-kosan lamanya Arya kaget seketika kenapa dia bisa ada dirumah sakit, tapi kepahitan malam itu masih jelas dikepalanya dan tidak akan mungkin melupakan semuanya sehingga membuat ia harus dirawat dirumah sakit.
          Sigmin masih disana, didekat Arya sahabatnya. Arya menanyakan Sigmin kemana Dewi pergi tapi Sigmin tidak tahu, Dewi hanya memberikan surat tapi tidak memberitahu kemana ia akan pergi. Besok pagi Arya berniat nekat mendatangi kos-kosan Dewi, datang kembali bersama penyesalan dan cinta terbesarnya untuk Dewi.

J J J
          Pagi itu matahari belum terlihat Arya sudah pergi tanpa sepengetahuan Sigmin, mencopot paksa jarum infus ditangannya dan pergi melangkah dengan tenaga yang tersisa untuk menemui Dewi. Sesampainya dikos-kosan Dewi Arya tidak menemukan apapun, kosannya terkunci tidak ada orang teman satu kos Dewi yang dulu pun tidak ada disana. Arya belum putus harapan dia kembali kekampus menemui teman satu kos Dewi yang setau Arya belum tamat dari kampus itu. Sayangnya Arya juga tidak menemukannya. Masih belum padam rasa keingintahuan Arya dimana Dewi, Arya kemudian menemui Eka sahabat Dewi yang sudah dari SD sampai kuliah pun mereka tetap bersama.
          Arya tertatih-tatih menemui Eka seperti Dewi yang tertatih-tatih melupakan Arya. Untunglah Arya menemukan Eka dikantor tempat kerjanya. Eka yang begitu membenci Arya setelah apa yang dilakukannya pada Dewi sahabatnya, tapi Eka berusaha bersikap tenang didepannya.
“ Ekaa,. Untung lah aku menemukan mu, Eka tolong beritahu aku dimana Dewi sekarang.,” pinta Arya memohon.
“Aku tidak tahu.,” jawab Eka singkat
“ Ekaaa., aku mohon kamu pasti tahu dimana Dewi, aku mohon kaa., aku mohon., aku tau kamu membenci ku sekarang tapi setidaknya beri aku kesempatan terakhir untuk membuktikan aku mencintai Dewi kaa, aku menyesal.,” rintih Arya dengan nada memohon dan tangisan. Eka kasihan melihat kondisi Arya dan akhirnya membawa Arya pada Dewi.
“ baiklah, ayo ikut aku” perintah Eka, Arya menurut dan mengikuti Eka.
          Eka berhenti pada satu rumah yang terlihat sederhana yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Mempersilahkan Arya masuk dan menutup kembali pintu rumah itu, tidak ada siapa-siapa disana, tidak ada Dewi. Kemudian Eka menaiki anak tangga diikuti dengan langkah Arya, Eka berhenti pada satu kamar didekat tangga.
“ bukalah “ perintah Eka pada Arya menyuruh Arya masuk kedalam kamar itu. Apa sebenarnya yang terjadi pikir Arya, perlahan Arya membuka daun pintu itu, terlihat seseorang yang sedang duduk dikursi roda dengan mata yang memandang kearah jendela melihat kesibukan kota itu. Entah itu lelaki atau perempuan karena arahnya membelakangi Arya dengan kepala yang botak tidak berambut. Bukankah Eka akan mempertemukan aku dengan Dewi bukan dengan lelaki botak ini pikir Arya, Arya masih tercengang didepan pintu kamar itu Eka melihat kebingungan diraut wajah Arya, Eka pun masuk kekamar itu dan memeluk orang yang botak yang duduk dikursi roda itu sembari berkata.
“ Sahabat ku., ada yang ingin menemuimu”
kemudian Eka menyuruh Arya mendekat  “mendekatlah”.
          Arya mendekat dan melihat orang  yang botak itu adalah Dewi, Arya kaget dan pertanyaan bertimbulan diotak Arya dan Eka mencoba menjelaskan semua yang terjadi pada Dewi setelah memutuskan untuk pergi dari kehidupan Arya.
“ hari itu dia menangis menemuiku, menceritakan semua tentang perasaan sakitnya yang ia dapat dari kamu Arya, apa kamu tau begitu tulusnya Dewi mencintaimu, apa kamu tau Dewi yang menyelamatkan nyawa mu, apa kamu tau Dewi adalah pendonor darah itu, apa kamu tau hancurnya Dewi saat itu ketika perempuan simpanan mu si Tasya itu mengatakan bahwa kalian sudah tunangan. Dimana otak mu Arya., dimana hati mu.,” Eka menangis menceritakan nya, terlihat bulir-bulir air mata jatuh menggelinding dipelupuk mata Dewi, begitu juga Arya yang menagis mendengar penjelasan Eka, dengan tangan yang lemah Arya berusaha mengusap air mata Dewi yang membasahi pipinya dengan perlahan. Dan Eka melanjutkan ceritanya lagi.
“ belum lagi hilang sakit yang kamu beri untuknya Dewi juga harus menanggung sakit kepergian orangtuanya yang kecelakaan tabrak lari ketika ingin menjenguk Dewi dirumah sakit, Dewi sakit kanker otak Arya., penderitaan dan sakit itu silih berganti menghampirinya, tapi kamu dimana., kamu bahagia tanpa menegenang Dewi. Tapi apa kamu tau Arya dengan keadaan sekarat begini Dewi masih saja bodoh memikirkan mu, menunggu mu datang padanya, aku selalu marah ketika Dewi mengingatmu. Belum pernah ku temui seseorang seperti Dewi tulusnya dalam mencintai” Eka tak sanggup menceritakan segalanya karna isak tangisnya.
“ apa kamu tau Arya sekarang Dewi stadium akhir” Eka menangis dengan keadaan yang harus dilalui sahabatnya. Yang kemungkinan besar tak berapa lama lagi Eka akan kehilangan Dewi.
          Arya menunduk dan menyandarkan kepalanya pada pangkuan Dewi, menangis terisak menggenggam tangan Dewi yang lemah itu seraya berkata,
“Pesyek kemana selama ini, aku cari pesyek tapi nggak ketemu, apa pesyek tau aku merindukan mu, sangat merindukan mu. Aku menyesal udah sia-siain kamu, aku baru tau apa itu cinta yang tulus dan cinta semu, maafin aku.. aku mohon maafin aku “ Arya menangis menandakan takut kehilangannya pada Dewi, seperti Dewi yang berlari menemui Arya dirumah sakit karna kecelakaan kemarin. Sekarang keadaan sudah berbalik.
          Dengan tenaga yang masih tersisa Dewi mencoba berkata walaupun tertatih-tatih.
“aku udah maafin kamu, kenapa kamu kesini, mana Tasya.?? Seharusnya kamu kesini dengan asya dan juga anak mu, pasti anak kalian lucu-lucu kan, tolong telfon dan suruh mereka kesini.,” pinta Dewi
“ nggak ada Tasya dan juga anak-anak lucu, Tasya meninggalkan ku dan pergi dengan lelaki lain, seharusnya pernikahan kami bulan ini tetapi dia mengahncurkan semuanya, aku membencinya.” Ujar Arya
“ apa kamu ingat, jika pun aku nikah itu dengan kamu, dan jika pun aku punya anak yang lucu aku ingin anak itu lahir dari rahim kamu., maafin aku udah hancurkan cinta dan impian kamu maafin aku.,” lanjut Arya dengan rintihan memilukan.
 “ Aku yang minta maaf disaat kamu terpuruk begini aku tak sanggup untuk menggenggam tangan mu lagi, karna kelemahan ku aku tak mampu untuk memberi mu kekuatan.”
“Berhentilah memikirkan diriku, seharusnya aku nggak pantas dapatkan ketulusan sebesar ini dari kamu, katakan apa yang harus aku lakukan supaya bisa membalas rasa sakit kamu selama ini sayang.,?? katakan,.??”
“Bisakah kamu untuk tidak mengganggu kehidupan ku seperti aku pergi dari kehidupan mu, bisakah kamu benar-benar pergi, apa kamu tau betapa sakitnya aku melupakan mu dan sampai diakhir maut ku pun aku tak pernah bisa, bisakah kau membantuku untuk melupakan mu” pinta Dewi menangis sakit.
“Dewiii.. kamu ngomong apa sih aku nggak ngerti, nggak bisakah kamu kasi aku kesempatan satu kali lagi Wii, satu kali lagi dan aku janji berusaha nggak buat kamu menangis lagi, maafin aku, aku mohon kasi aku kesempatan untuk perbaiki ini semua Wi.,”
Tiba-tiba darah mengalir dari hidung Dewi, Arya yang sebelumnya tidak pernah melihat Dewi sesakit ini begitu panik, Dewi menyeka darah yang mengalir dihidungnya dengan tenaga yang masih tersisa dan kemudian pemandangannya gelap dan bergoyang-goyang lalu pingsan. Eka dan Arya begitu panik dan segera membawa Dewi kerumah sakit.

J J J

          Dua jam berlalu mereka dirumah sakit tapi Dewi belum juga sadar dari pingsannya dan masih berada diruang UGD. Arya syok ketika dokter seenaknya memvonis hidup Dewi tinggal sebentar lagi, ingin rasanya Arya memberiakan seluruh nyawanya pada Dewi tapi itu mustahil. Penyesalan lah yang sekarang tersisa dihatinya, andai ia tidak meninggalkan dewi dan bersamanya pasti ini tidak akan terjadi, entah lah yang pasti itu lah yang sekarang yang ada dipikiran Arya.
          Kakinya tertatih lesu memasuku ruang tempat Dewi dirawat, terlihat oleh mata kepalanya sendiri orang yang mencintainya setulus hati harus berbaring lemah di rumah sakit. Tangannya berusaha menggenggam erat jari jemari kekasihnya, mencuimnya penuh cinta, dijari manis Dewi masih melingkar cincin yang pernah Arya kasi dihari pertama mereka jadian dan sementara Arya sudah membuang cincin itu yang sekarang terlingkar dijarinya adalah cincin pertunangannya bersama Tasya.
          Arya mencoba membangunkan Dewi dari tidurnya yang tak kunjung bangun juga.
          “Heeii.. cewek nakal, bangun.. kenapa masih tidur padahal aku disini, Ayoo bangun aku mau lihat kamu senyum hari ini.,” ujar Arya perlahan dalam isak tangis, berkali-kali ia menghapus air matanya tapi berkali-kali juga jatuh. Namun Dewi tak jua bangun dari tidurnya, Arya merebahkan kepalanya dibahu Dewi yang terbaring lemah itu dengan perlahan, memeluknya dengan rasa sayang dan penuh rasa takut akan kehilangan untuk kedua kalinya. Arya tertidur dengan kesedihan yang mendalam dibahu Dewi.
          Beberapa menit kemudian Dewi terbangun dari tidurnya dan disadarinya bahwa Arya tertidur dibahunya, Dewi mengusap rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Eka yang menyadari Dewi bangun dari pingsannya ingin memanggil dokter tapi dewi mengisyaratkan untuk tidak memanggil dokter. Eka mengerti bahwa Dewi tidak ungin diganggu sebentar saja untuknya bersama Arya. Dewi meminta kertas dan pulpen pada Eka, menuliskan sesuatu untuk Arya.
“Mungkin aku tidak akan pernah bangun lagi, Aku mencintaimu sampai maut menjemputku, Jaga Selalu Hati Mu untuk hati yang kau cintai seperti aku ynag menjaga hatiku untuk mu sampai aku menutup mata”.
          Dewi menyelipkan sepotong surat itu digenggaman tangan Arya. Tersenyum bahagia melihat Arya ada disampingnya yang tertidur nyeyak, tiba-tiba Dewi merasa sesak dan dari hidungnya keluar darah, pemandangannya gelap lagi, sekelilingnya serasa bergoyang-goyang, semua dinding berwarna putih itu tak terlihat lagi olehnya, rasa sakit dikepalanya makin menjadi-jadi dan batuk mengeluarkan darah, Arya terjaga dari tidurnya dan panik melihat Dewi. Arya ingin berlari memanggil dokter tapi Dewi menahannya seraya menangis menahan rasa sakitnya.
          “ Dewiii..” Arya menangis melihat kekasih Hatinya kesakitan. Dengan penuh kekuatan dewi mencoba tersenyum menyakinkan Arya bahwa semua kan baik-baik saja. Arya yang melihat senyum Dewi juga tersenyum meyakinkan Dewi bahwa semua akan kembali seperti semula. Arya mengusap airmata Dewi dan Darah dimulut dan Hidungnya seraya menagis terisak.
          Dewi menarik nafas panjang dua kali dan kemudian angin singgah lalu pergi bersamaan dengan nafas Dewi. Alat pendeteksi jantung Dewi terhenti dan berbunyi bahwa jantung Dewi tak berdetak lagi. Mata sayu Dewi terpejam, bibirnya menyinggungkan senyum. Wajah cantiknya tak hilang meski jantungnya terhenti, cintanya tetap hidup meskipun raganya sudah mati. Arya baru tersadar bahwa orang yang dihadapannya sekarang sudah pergi jauh meninggalkannya. Menjerit lidahnya terasa kelu, menangis airmata nya pun sudah kering. Hanya bisa menatap wajah yang tertidur pulas itu dengan penuh kebisuan. Menyadari bahwa ada sesuatu digenggaman tangannya Arya membuka dan membacanya, tersadar olehnya bahwa maut menjemput pun Dewi masih membanjirinya dengan cinta. Hidup dengan penyesalan dan cinta yang masih belum terbukikan dengan kebahagian. Setidaknya diakhir cerita cintanya ia mendapati kekasihnya tersenyum untuknya.
          Terimakasih cinta.. terimakasih ketulusan yang kau beri untuk ku, hingga sampai sekarang cinta mu hidup dihati ku yang menjadi satu dalam raga ku. Aku tak akan pernah menemukan sosok dirimu pada diri yang lain. Cinta mu mempenjarakan ku walaupun kau sudah tiada hingga sampaI sekarang aku belum bisa menggantikan sosok dirimu dihatiku. Tak akan ada seperti mu. I love you Rindu.
*kisah ini dikutip dari kisah yang nyata.

                                                                                          S E L E S A I
         



0 komentar:

Posting Komentar