19.04 -
Cerita,cerita remaja,Sahabat
No comments
Cerita,cerita remaja,Sahabat
No comments
Sepucuk Surat
Nama Pengarang : Khairani Arrahma #KA
Malam
telah larut,namun mata ku tak kunjung mengantuk. Lewat jendela yang masih
terbuka,ku pandangi ribuan bintang yang bersinar terang.Sebenarnya ibu sudah
berulang kali mencoba menutup jendela,takut banyak nyamuk.Tapi aku bersikeras
dengan jendela terbuka.Mungkin ibu kesal dengan perangai ku karena sebentar
kemudian ku dengar suara pintu dibuka.
“Tuhan...Apa mungkin aku bisa memenuhi
janjiku ??” Jeritku dalam hati “Aku tidak kuat tuhan..”
J A N J I.. Setiap kali kekecewaan itu
datang,bulir mata ku tak dapat ku tahan saat tangis ku menjadi-jadi,sakit
dikepalaku mencuat sampai ke ubun-ubun.Lalu ku tarik selimut untuk
menutupinya,jangan sampai ibu tahu aku menangis aku tidak mau dia semangkin
terbebani dalam hal itu. Begitu lah aku sampai pagi datang.
Susah payah aku masuk ke “S T A N” demi
mendapatkan kuliah gratis lantaran dibiayai pemerintah.Semua memang salah
ku,aku terlalu memaksakan diri dibangku perkuliahan.Kesehatan ku drop,padahal
tinggal dua bulan lagi toga hitam yang ku tunggu-tunggu duduk manis dikepala
ku.
Dokter mendiaagnosa bahwa aku mengidap
penyakit Kanker Otak.Kadang aku tak habis fikir bisa-bisanya penyakit itu
bersarang ditubuh ku.Kalau sudah kambuh rasanya aku mau mati saja.
“Ren,aku sudah minta pak tambunan untuk
memberi mu izin menyelesaikan skripsi lebih lama dari jadwal yang ditentukan,”
kata tia sahabat sekaligus teman kuliahku yang pagi ini datang menjenguk.
“Terus boleh ??”
“Ya..kamukan mahasiswi kesayangannya,mana
mungkin dia menolak”
“Apaan sih..!”
“Cie..cciiee..mukanya merah.”
Tia terus saja menertawai ku.Tapi akhirnya
tawa berhenti,dia takut aku marah apalagi aku masih sakit.
“Maaf Cuma bercanda, jangan diambil hati ya..!!”
“Oh iya,malam ini aku bisa pinjam laptop
kamu tia?? Aku ingin mengirim karya tulis kekoran daerah.”
“Siiippp..!! kalau sukses traktir makan
mie goreng ya.!!”
Akhirnya ada
juga sesuatu yang dapat ku kerjakan dalam kondisi seperti
ini.Syukurlah,setidaknya aku dapat menghilangkan sedikit beban yang terus saja
berkutat difiiran ini.Bagaimana tidak beban?? Bayangkan saja,sepanjang hari aku
terus saja terbaring dirumah sakit.Menahan sakit yang terus singgah dikepala ku
dan janji-janji yang terus saja menghantui fikiran ku.Sementara itu,ibu selalu
membatasiku melakukan hal-hal yang ku ingninkan.Rasanya bagai orang yang
disiksa,tapi ini lebih sakit dari pada disiksa.
Sepanjang hari aku mengetik,sampai-sampai
aku lupa kapan waktu makan maupun minum obat.Sudah banyak puisi juga cerpen
yang telah lahir dari ketikan jemariku,hingga tanpa ku sadari malam telah
larut.Namun semangat ku yang menggebu-gebu terus saja mendobrak secuil harapan
yang masih berkubang dihati ku.Aku ingin menulis dan terus menulis,dengan
begitu aku pasti bisa memenuhi janji ku walaupun hasil yang kuperoleh tidak
seberapa.
“Rena,sebaiknya kamu tidur kamu perlu
istirahat supaya kamu cepat sembuh,” bujuk ibu disela-sela keseriusan ku.
“iyaa, ibu.”
Setelah agak
lama barulah aku klik tanda “turn off” dilayar laptop.Aku tak tega melihat raut
gelisah dimata ibu,biarlah biar aku saja yang sakit jangan sampai ibu juga
sakit gara-gara sikap ku.Berulang kali ku pejamkan mataku,tapi tak urung jua
aku tertidur.Seketika ide-ide bermunculan di otakku,tapi ku paksakan mata ini
terpejam.Kasihan ibu.
Kemoterapi hari ini berjalan dengan
lancar,sekalipun tak ada kemajuan yang drastis.Tumor diotakku berkembang sangat
cepat,pertanda tidak ada harapan lagi aku akan selamat.Hanya doa yang dapat ku
panjatkan pada sang khalik,aku sudah pasrah.Lagi-lagi aku lihat ibu menangis
didepan kamar tempat aku dirawat,jika aku punya banyak kekuatan tak akan ku
biarkan mutiara jatuh dari pelupuk mata ibu.Kupukul juga dadaku menahan
perihnya hati ini.
Lalu suster memapahku keranjang
“Sebaiknya adik istrahat dulu,jangan terlalu lelah”
Namun sejak suster pergi,jari jemari ku
kembali menari di keyboard menyelesaikan banyak karangan,begitu semua selesai
ku minta ibu mengirimkannya lewat kantor pos.Hingga berminggu-minggu kemudian
tak pernah Nokia E-63 milikku memunculkanpesan bahwa karyaku dimuat dan aku
harus mengirimkan noomor rekening,tak satu pun ada.
Tak terhitung lagi berapa banyak karya
yang aku kirimkan ke koran daerah,bahkan sekedar iseng ku kirim lagi ke
beberapa majalah.Sebeuah e-mail pun tak pernah muncul,lelah sungguh lelah.Lalu
tiang teraliku runtuh,pikiran ku kacau, beribu bayangan muncul menari-nari
dalam kepala ku,dinding putih itu seolah-olah menertawaiku,sejenak aku diam
membisu.Flashdisk ku hentakkan kuat-kuat kemeja kecil disamping ku,kemarahan
mencuat ego ku “Aaarrgghhh...!!”
Sekejap saja laptop yang ku pinjam dari
tia rebah ke lantai,dengan terburu-buru ibu datang bibirnya terkatup melihat
laptop itu terbagi dua dan kacanya berserakan,rambut ku yang acak-acakan
membuatnya terkulai lemah.Hari itu didepan mataku ibu menangis sejadi-jadinya.
“Siapa bilang aku tak bisa mengarang ??
siaaapaaa ?? siiaapaaaa..???” geramku.
Semua yang ada
didekatku membuatku tak waras,semua ku hancurkan dengan amarah ku,tia yang baru
datang terkejut bukan main melihat ku bagaikan orang yang kerasukan setan.
“Rena, apa yang kamu lakukan ??” tia
mencoba memelukku tapi aku menepisnya.
“Pergii..peerrggiii..pergiii “ teriakku.
Tia melangkah
dengan gemetaran meninggalkan aku yang terduduk disudut ruangan dengan kepala
tertunduk bertopangkan kedua lutut.Tak lama kemudian dia datang dengan dokter
diikuti beberapa suster,seketika semuanya gelap,munngkin mereka memberiku obat
penenang.
* * *
Janji-janji apa lagi yang ku ikatkan
dipuncak asa,sebab tiang-tiang harapan ku telah tumpul.Aku merasakann tidak
berguna,aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa memenuhi janji yang
telah ku ikrarkan dihadapan tuhan.Mungkin aku harus menyerah sampai disisni tak
ada harapan lagi.Dua bulan sudah berlalu dan semua sia-sia,kuliah ku telah
berantakan.
“iibbuu..iibbuu..maafkan rena ibbuu..” ternyata
aku mengigau.
Dengan tubuh
yang lemah,perlahan aku membuka mataku.Ada tia disamping ku.
“Tia..” kata ku perlahan membangunkan
nya.
“Renaa..kamu sudah sadar,syukurlah.”
“Maaf aku tadi khilaf, kamu lihat ibuku.”
“Dia pulang kerumah,katanya mengambil
pakaian ganti untuk mu..” jawab tia seraya mencari sesuatu didalam tasnya.
“Oohh iya ren,saat aku mengantar ibumu
kerumah,tukang pos datang katanya ada kiriman buat mu,mungkin itu surat balasan
dari surat yang kamu suruh aku kirim kemarin.Ketika ibumu tahu kiriman itu dari
sebuah media. Dia ngotot untuk mengkonyaknya..inii..” tia menaruh sobekan
kertas diatas meja ku.
Untung saja sobekanya tidak terlalu
parah,jadi aku bisa menyatukannya dengan nasi yang belum ku makan tadi,ternyata
sebuah surat pemberitahuan.Setiap kata yang tertera kutelusuri satu persatu,dipertengahan
isi surat kepalajku mulai sakit lagi,nafas ku tersenggal-senggal.
“Kamu mimisan ren..Aduuhh bagaimana ini ?
aku harus memanggil dokter” tia jadi panik.
Tanganku bergerak menuju hidungku,darah
mengalir terus saja mengalir,aku membersihkannya begitu saja dengan tanganku.Ku
halangi tia memanggil dokter,surat itu ku baca sampai habis,begitu aku berada
dibaris terakhir surat itu lepas dari tangan ku..
“Maaf tapi karya anda tidak pernah sampai
ke meja redaksi”
Kata-kata itu
terus saja terngiang dibenakku.Dua bulan penuh aku mengerjakan semua
karya-karya ku tapi yang datang hanyalah
surat penmberitahuan itu,belum sampai ke meja redaksi ? bagaimana mungkin itu
bisa terjadi ?? apa semua karna ibu.
“kenapa ibu tega bu..?? kenaapaa..??”
jeritku dalam hati
Rasanya mata ini tak mampu menahan segala
beban dan luka yang telah menggores hati dan penantian ku akan hidup.Hidup
untuk menjadi berarti bagi orang lain.Dan aku menangis dalam tatapan
kosong.Semua sudah berakhir,mimpi-mimpi dan harapan ku harus berlutut dihadapan
kematian.
Bu,janji itu tak bisa ku penuhi,janji
untuk mengangkat kemiskinan yang terselempang didadamu dan saudara-saudara
kita,sebab semua pintu telah tertutup bahkan hari ini aku akan meninggalkan
semuanya,hanya surat ini saja bu. Ibu maafkan aku,aku tak pernah menyalahkan mu
sebab aku tahu bahwa semua ini demi kebaikan ku,anak mu.
Lalu nafas ku
lengah,berlalu dengan bersamaan angin yang berhembus.
S E L E S A I

0 komentar:
Posting Komentar