Sabtu, 03 Desember 2016

Sepucuk Surat


Nama Pengarang  : Khairani Arrahma #KA

Malam telah larut,namun mata ku tak kunjung mengantuk. Lewat jendela yang masih terbuka,ku pandangi ribuan bintang yang bersinar terang.Sebenarnya ibu sudah berulang kali mencoba menutup jendela,takut banyak nyamuk.Tapi aku bersikeras dengan jendela terbuka.Mungkin ibu kesal dengan perangai ku karena sebentar kemudian ku dengar suara pintu dibuka.
       “Tuhan...Apa mungkin aku bisa memenuhi janjiku ??” Jeritku dalam hati “Aku tidak kuat tuhan..”
       J A N J I.. Setiap kali kekecewaan itu datang,bulir mata ku tak dapat ku tahan saat tangis ku menjadi-jadi,sakit dikepalaku mencuat sampai ke ubun-ubun.Lalu ku tarik selimut untuk menutupinya,jangan sampai ibu tahu aku menangis aku tidak mau dia semangkin terbebani dalam hal itu. Begitu lah aku sampai pagi datang.
       Susah payah aku masuk ke “S T A N” demi mendapatkan kuliah gratis lantaran dibiayai pemerintah.Semua memang salah ku,aku terlalu memaksakan diri dibangku perkuliahan.Kesehatan ku drop,padahal tinggal dua bulan lagi toga hitam yang ku tunggu-tunggu duduk manis dikepala ku.
       Dokter mendiaagnosa bahwa aku mengidap penyakit Kanker Otak.Kadang aku tak habis fikir bisa-bisanya penyakit itu bersarang ditubuh ku.Kalau sudah kambuh rasanya aku mau mati saja.
       “Ren,aku sudah minta pak tambunan untuk memberi mu izin menyelesaikan skripsi lebih lama dari jadwal yang ditentukan,” kata tia sahabat sekaligus teman kuliahku yang pagi ini datang menjenguk.
       “Terus boleh ??”
       “Ya..kamukan mahasiswi kesayangannya,mana mungkin dia menolak”
       “Apaan sih..!”
       “Cie..cciiee..mukanya merah.”
 Tia terus saja menertawai ku.Tapi akhirnya tawa berhenti,dia takut aku marah apalagi aku masih sakit.
       “Maaf  Cuma bercanda, jangan diambil hati ya..!!”
       “Oh iya,malam ini aku bisa pinjam laptop kamu tia?? Aku ingin mengirim karya tulis kekoran daerah.”
       “Siiippp..!! kalau sukses traktir makan mie goreng ya.!!”
Akhirnya ada juga sesuatu yang dapat ku kerjakan dalam kondisi seperti ini.Syukurlah,setidaknya aku dapat menghilangkan sedikit beban yang terus saja berkutat difiiran ini.Bagaimana tidak beban?? Bayangkan saja,sepanjang hari aku terus saja terbaring dirumah sakit.Menahan sakit yang terus singgah dikepala ku dan janji-janji yang terus saja menghantui fikiran ku.Sementara itu,ibu selalu membatasiku melakukan hal-hal yang ku ingninkan.Rasanya bagai orang yang disiksa,tapi ini lebih sakit dari pada disiksa.
       Sepanjang hari aku mengetik,sampai-sampai aku lupa kapan waktu makan maupun minum obat.Sudah banyak puisi juga cerpen yang telah lahir dari ketikan jemariku,hingga tanpa ku sadari malam telah larut.Namun semangat ku yang menggebu-gebu terus saja mendobrak secuil harapan yang masih berkubang dihati ku.Aku ingin menulis dan terus menulis,dengan begitu aku pasti bisa memenuhi janji ku walaupun hasil yang kuperoleh tidak seberapa.
       “Rena,sebaiknya kamu tidur kamu perlu istirahat supaya kamu cepat sembuh,” bujuk ibu disela-sela keseriusan ku.
       “iyaa, ibu.”
Setelah agak lama barulah aku klik tanda “turn off” dilayar laptop.Aku tak tega melihat raut gelisah dimata ibu,biarlah biar aku saja yang sakit jangan sampai ibu juga sakit gara-gara sikap ku.Berulang kali ku pejamkan mataku,tapi tak urung jua aku tertidur.Seketika ide-ide bermunculan di otakku,tapi ku paksakan mata ini terpejam.Kasihan ibu.
       Kemoterapi hari ini berjalan dengan lancar,sekalipun tak ada kemajuan yang drastis.Tumor diotakku berkembang sangat cepat,pertanda tidak ada harapan lagi aku akan selamat.Hanya doa yang dapat ku panjatkan pada sang khalik,aku sudah pasrah.Lagi-lagi aku lihat ibu menangis didepan kamar tempat aku dirawat,jika aku punya banyak kekuatan tak akan ku biarkan mutiara jatuh dari pelupuk mata ibu.Kupukul juga dadaku menahan perihnya hati ini.
       Lalu suster memapahku keranjang “Sebaiknya adik istrahat dulu,jangan terlalu lelah”
       Namun sejak suster pergi,jari jemari ku kembali menari di keyboard menyelesaikan banyak karangan,begitu semua selesai ku minta ibu mengirimkannya lewat kantor pos.Hingga berminggu-minggu kemudian tak pernah Nokia E-63 milikku memunculkanpesan bahwa karyaku dimuat dan aku harus mengirimkan noomor rekening,tak satu pun ada.
       Tak terhitung lagi berapa banyak karya yang aku kirimkan ke koran daerah,bahkan sekedar iseng ku kirim lagi ke beberapa majalah.Sebeuah e-mail pun tak pernah muncul,lelah sungguh lelah.Lalu tiang teraliku runtuh,pikiran ku kacau, beribu bayangan muncul menari-nari dalam kepala ku,dinding putih itu seolah-olah menertawaiku,sejenak aku diam membisu.Flashdisk ku hentakkan kuat-kuat kemeja kecil disamping ku,kemarahan mencuat ego ku “Aaarrgghhh...!!”
       Sekejap saja laptop yang ku pinjam dari tia rebah ke lantai,dengan terburu-buru ibu datang bibirnya terkatup melihat laptop itu terbagi dua dan kacanya berserakan,rambut ku yang acak-acakan membuatnya terkulai lemah.Hari itu didepan mataku ibu menangis sejadi-jadinya.
       “Siapa bilang aku tak bisa mengarang ?? siaaapaaa ?? siiaapaaaa..???” geramku.
Semua yang ada didekatku membuatku tak waras,semua ku hancurkan dengan amarah ku,tia yang baru datang terkejut bukan main melihat ku bagaikan orang yang kerasukan setan.
       “Rena, apa yang kamu lakukan ??” tia mencoba memelukku tapi aku menepisnya.
       “Pergii..peerrggiii..pergiii “ teriakku.
Tia melangkah dengan gemetaran meninggalkan aku yang terduduk disudut ruangan dengan kepala tertunduk bertopangkan kedua lutut.Tak lama kemudian dia datang dengan dokter diikuti beberapa suster,seketika semuanya gelap,munngkin mereka memberiku obat penenang.
*  *  *
       Janji-janji apa lagi yang ku ikatkan dipuncak asa,sebab tiang-tiang harapan ku telah tumpul.Aku merasakann tidak berguna,aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa memenuhi janji yang telah ku ikrarkan dihadapan tuhan.Mungkin aku harus menyerah sampai disisni tak ada harapan lagi.Dua bulan sudah berlalu dan semua sia-sia,kuliah ku telah berantakan.
       “iibbuu..iibbuu..maafkan rena ibbuu..” ternyata aku mengigau.
Dengan tubuh yang lemah,perlahan aku membuka mataku.Ada tia disamping ku.
       “Tia..” kata ku perlahan membangunkan nya.
       “Renaa..kamu sudah sadar,syukurlah.”
       “Maaf aku tadi khilaf, kamu lihat ibuku.”
       “Dia pulang kerumah,katanya mengambil pakaian ganti untuk mu..” jawab tia seraya mencari sesuatu didalam tasnya.
       “Oohh iya ren,saat aku mengantar ibumu kerumah,tukang pos datang katanya ada kiriman buat mu,mungkin itu surat balasan dari surat yang kamu suruh aku kirim kemarin.Ketika ibumu tahu kiriman itu dari sebuah media. Dia ngotot untuk mengkonyaknya..inii..” tia menaruh sobekan kertas diatas meja ku.
       Untung saja sobekanya tidak terlalu parah,jadi aku bisa menyatukannya dengan nasi yang belum ku makan tadi,ternyata sebuah surat pemberitahuan.Setiap kata yang tertera kutelusuri satu persatu,dipertengahan isi surat kepalajku mulai sakit lagi,nafas ku tersenggal-senggal.
       “Kamu mimisan ren..Aduuhh bagaimana ini ? aku harus memanggil dokter” tia jadi panik.
  Tanganku bergerak menuju hidungku,darah mengalir terus saja mengalir,aku membersihkannya begitu saja dengan tanganku.Ku halangi tia memanggil dokter,surat itu ku baca sampai habis,begitu aku berada dibaris terakhir surat itu lepas dari tangan ku..
       “Maaf tapi karya anda tidak pernah sampai ke meja redaksi”
Kata-kata itu terus saja terngiang dibenakku.Dua bulan penuh aku mengerjakan semua karya-karya ku tapi  yang datang hanyalah surat penmberitahuan itu,belum sampai ke meja redaksi ? bagaimana mungkin itu bisa terjadi ?? apa semua karna ibu.
       “kenapa ibu tega bu..?? kenaapaa..??” jeritku dalam hati
       Rasanya mata ini tak mampu menahan segala beban dan luka yang telah menggores hati dan penantian ku akan hidup.Hidup untuk menjadi berarti bagi orang lain.Dan aku menangis dalam tatapan kosong.Semua sudah berakhir,mimpi-mimpi dan harapan ku harus berlutut dihadapan kematian.
       Bu,janji itu tak bisa ku penuhi,janji untuk mengangkat kemiskinan yang terselempang didadamu dan saudara-saudara kita,sebab semua pintu telah tertutup bahkan hari ini aku akan meninggalkan semuanya,hanya surat ini saja bu. Ibu maafkan aku,aku tak pernah menyalahkan mu sebab aku tahu bahwa semua ini demi kebaikan ku,anak mu.
Lalu nafas ku lengah,berlalu dengan bersamaan angin yang berhembus.

                                                      S E L E S A I

0 komentar:

Posting Komentar