Selasa, 21 Juni 2016

Hujan & Cerita Terakhir Bersama Mu




Hujan & Cerita Terakhir Bersama Mu


PENULIS : Khairani Arrahma #K.A

Aku mencengkram erat kepala ku ditengah hujan, aku masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otak ku. Rahma, begitu orang-orang memanggil nama ku. Menangis ditengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air mata pun tak akan terlihat.
Aku berjalan dikoridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak ?? fikiran ku sedang kacau saat ini, apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karena Abdi si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya Abdi hanyalah pria biasa dimata orang-orang, tapi dimataku dia lebih dari sekadar indah yang mengisi ruang hati ku dan hari-hari ku. Mungkin karena aku memandangnya dengan mata hati. Yaa.. mungkin saja.
Tak ada yang buruk mengenal Abdi, hanya saja Abdi terlalu untuk ku. Yaa.. terlalu baik, terlalu tampan, terlalu pintar dan nyaris sempurna. Itu menurut penilaian ku pada Abdi tapi entahlah penilaian orang-orang. Dulu aku tidak suka pada Abdi bahkan aku sangat membencinya, nyaris saja ingin rasanya aku membunuhnya. Yaa.. rasa benci itu mengubah semuanya dan sekarang ?? Aku sangat mencintainya, mungkin..!
“ Rahma, kamu baik-baik saja ?” suara itu ?? suara itu sudah tak asing lagi ditelinga ku, dan benar saja ketika aku melihat siapa orang itu. Ternyata Abdi.
“ Aku..?? Yaa... Aku baik-baik saja !!” jawab ku. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. Wanita..?? bukankah itu salah satu keahlian mereka untuk menutupi perasaan mereka yang sebenarnya. Semua terlihat baik-baik saja tapi nyatanya tak sebaik yang dibayangkan.
Seperti biasa aku duduk disamping Echa. Echa dulunya adalah gadis yang disukai Abdi. Echa itu wanita yang cantik, pintar, baik, pandai bergaul, ramah dan hampir tak ada celah dalam dirinya. Tapi itu dulu, sampai Abdi berkata kalau ia menyukai ku. Aku mendengus geli ketika otak ku memutar memori antara Aku, Echa dan Abdi.
Waktu itu hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi yang kering ini. Aku dan Echa sedang menunggu hujan itu berhenti. Echa sibuk mengamati hujan yang deras itu tetapi aku justru menikmatinya. Aroma hujan, aku selalu menyukai itu, menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah music klasik ditelingaku dan aku menikmati itu sampai aku tahu bahwa Abdi memberikan jaketnya untuk Echa. Aku benar-benar cemburu dan marah.
“Rahma, maaf.. aku nggak mau semua berakhir sampai disini ?”
Aku sempat bingung dengan isi pesan singkat Abdi. Kata-katanya sangat sulit untuk dicerna dan dipahami oleh otakku sendiri, bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata itu. Tapi aku menjawab....
“ apa yang berakhir ?? nggak ada yang berakhir, semua akan sama seperti dulu. Maaf aku emosi. Jangan berlebihan menanggapinya”
Tiba-tiba aku tersandar dari lamunan ku karena guru sudah mulai memasuki kelas. Lagi-lagi mataku menangkap sosok Abdi. Abdi sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin ?? aku pura-pura tidak memperdulikannya walaupun mata ku terasa perih melihatnya. Tapi aku harus fokus ini semua demi mimpi dan kebahagiaan ku.
Jam tambahan pun berakhir, semua anak-anak dikelas itu sibuk mengobrol sana-sini membicarakan rencana mereka sepulang dari jam tambahan. Aku sedang fokus membereskan buku-buku ku memastikan agar tak ada satupun barang ku yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusikku lagi, membuat konsentrasiku buyar seketika.
“ Tidak.. hanya ingin melihat mu. Rahma yang fokus benar-benar lain yaa.. terlihat lebih cantik” Abdi sedikit menggoda ku. Aku sedikit terpengaruh dan mengangkat sudut bibir ku ketika mendengar kata-kata gombalan basi itu.
“ Eeeh..?? Rahma senyum ?”
Setelah mendengarnya aku segera merubah raut wajah ku. Aku menyesali senyuman ku barusan. Seharusnya aku tidak memberikan senyuman berharga ku untuk orang yang salah. Yaa kepada si Abdi, si cowok PHP itu. Ingin rasanya aku memutar waktu 5 detik yang lalu mengubah senyuman itu menjadi sebuah tamparan yang melayang kepipinya. Sungguh entah kenapa aku membencinya. Padahal aku sangat mencintainya.
“ Rahma.. ada yang mau aku bicarakan, kita keluar sebentar yaa..”
Aku segera keluar bersama Abdi sebelum teman-teman ku melihat. Ketika Abdi mengajak ku untuk ngobrol ditempat teduh aku menolaknya. Aku hanya beralasan kalau saat ini hujan. Hujan air, dan lagipula aku sangat suka Hujan.
“ Mau bicara apa ?” tanya ku
“ kamu kenapa akhir-akhir ini, kamu menjauhi ku, kamu nggak pernah mengirim ku pesan singkat lagi, bahkan kamu seperti membenciku. Aku salah apa sama kamu ?” jawab Abdi yang kembali bertanya.
“ Semuanya sudah brakhir “
“ Berakhir ? Maksud mu ? Apa yang berakhir ?”
“ Kita “
Beberapa menit kemudian aku melarat kata-kata ku.
“ Maksud ku bukan kita tapi aku dan kamu, bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?? “
“ Apa maksud mu Rahma? Aku tidak mengerti.. kamu bicara apa sih ? siapa yang bilang kalu kau dan kamu tidak akan pernah menjadi kita ??”
“Takdir. Takdir memang tidak pernah berkata tentang hal itu, tapi takdir itu menunjukkannya.”
“ takdir tidak pernah menunjukkan itu Rah” Jawab Abdi tegas
“ tak pernah ?? bagaimana dengan kebersamaan kita ?? bukankah itu cukup menunjukkan kalu kita tidak bisa bersama ?? kamu keras sedang aku lembut, kamu api sedang aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita terus bersama kita kan menghancurkan satu sama lain dan aku tidak inginkan itu.”
Hujan semangkin deras. Sebanyak air hujan itulah air mata ku yang kutahan untuk tidak jatuh dihadapan Abdi. Mungkin untuk terakhir kalinya aku ingin Abdi mengingat senyumku. Bukan tangis ku.
“ kenpa kamu menginginkan ini berakhir ?? bukankah ini terlalu awal untuk mengakhirinya?”
“ kenapa kamu bertanya pada ku ?? kamu yang mengakhirinya bukan aku”
“ Aku ??? Haah.. aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
“ sekali lagi mungkin lidah mu terlalu kaku untuk mengatakannya bahwa semua ini telah berakhir tetapi kamu berhasil menunjukkan bahwa kamu ingin mengakhirinya “
“ Rah., Dulukan aku pernah bilang kalau aku nggak mau......” ucapan Abdi terpotong karena aku segera menjawab.,
“ itu dulu, sekarang tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
Hening sejenak. Abdi tidak bisa menjawab apa-apa lagi, tak pernah terpikirkan oleh Abdi kalau aku kan mengatakan hal-hal seperti ini. Mungkin Abdi tidak tahu apa yang membuat aku berubah seperti ini. Buat apa dikatakan lagi tak cukupkah dia menyadarinya selama ini.
“ lagipula kamu sekarang sudah punya pacar kan??” kata ku yang ingin menyindir Abdi. “ pasti kamu bingung aku tau dari mana kalau kamu sudah punya pacar !!” sambungku setengah mati memaksakan senyum pada wajahku.
“ pastinya, kamu ini jangan-jangan penguntit aku yaa..??” Abdi benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya barusan bahkan aku ikut terkekeh dengan jawaban Abdi.
Aku berhenti dari tawa ku, aku memperhatikan Abdi yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya aku melihat Abdi tertawa karna ku dan bersamaku.Aku menatap wajah Abdi lekat-lekat dan aku mencoba mengingat setiap lekuk pada wajah Abdi. Jika tuhan tak mengizinkanku untuk memiliki Abdi maka biarkanlah aku memiliki kenangan dan cerita tentang Abdi. Tetapi kauu tak ingin mengingat kenangan dan cerita ini setiap saat. Biarkanlah hujan yang menyimpan kenangan dan cerita terakhir ku bersama Abdi.
Tanpa sadar aku menitiskan ait mata dan aku berbalik membelakangi Abdi. Pundakku bergetar hebat, tangisanku benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Suara tangisku pecah diantara lebatnya hujan. Abdi segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung ku. Punggung seorang gadis yang dulu sempat menjadi tempat pertama saat esdih maupun senang. Abdi mungkin tahu bahwa betapa rapuhnya aku saat ini.
Aku segera menghapus air mata ku yang jatuh tak beraturan seperti hujan yang turun, mengatur suara ku agar tak bergetar saat berbicara dengan Abdi nantinya. Aku membalikkan tubuhku dan tersenyum kaku pada Abdi. Abdi membalas senyuman itu dengan tulus. Aku tak tahu harus bagaimana saat sesuatu sudah berakhir, yang aku tahu rasa sakit dihati ini lebih dari sakit apapun itu dan yang terbesit dibenakku saat ini adalah betapa bodohnya aku. Aku juga tahu bahwa hujan akan membawaku pada kenangan dan cerita ku bersama Abdi, tetapi pada saat hujan berhenti kenangan dan cerita itu sedikit demi sediikit akan menghilang.
Aku pergi meninggalkan Abdi yang masih terpakur memikirkan segalanya dan masih terdiam bisu. Kini aku sadar bahwa tak selamanya pangeran itu baik untukku.
Dan untuk HUJAN ?? terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan dan cerita terakhirku bersama Abdi. Kenangan itu pasti akan tetap ada jika hujan masih turun. Cerita itu akan tetap ada jika hujan mulai turun setetes demi setetes. Banyaknya rintik hujan, dan sebanyakk itu lah aku pernah mencintai Abdi. Terimakasih untuk Cinta yang pernah singgah dihati ku.

0 komentar:

Posting Komentar