05.49 -
cerita remaja,Sahabat
No comments
cerita remaja,Sahabat
No comments
Hujan & Cerita Terakhir Bersama Mu
Hujan & Cerita Terakhir Bersama Mu
PENULIS : Khairani Arrahma #K.A
Aku mencengkram erat kepala ku
ditengah hujan, aku masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan
otak ku. Rahma, begitu orang-orang memanggil nama ku. Menangis ditengah hujan yang
sangat deras memang efektif karena tetesan air mata pun tak akan terlihat.
Aku berjalan dikoridor kelas dengan
lesu. Bagaimana tidak ?? fikiran ku sedang kacau saat ini, apalagi kalau bukan
karna cinta. Tepatnya karena Abdi si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya
Abdi hanyalah pria biasa dimata orang-orang, tapi dimataku dia lebih dari
sekadar indah yang mengisi ruang hati ku dan hari-hari ku. Mungkin karena aku
memandangnya dengan mata hati. Yaa.. mungkin saja.
Tak ada yang buruk mengenal Abdi,
hanya saja Abdi terlalu untuk ku. Yaa.. terlalu baik, terlalu tampan, terlalu
pintar dan nyaris sempurna. Itu menurut penilaian ku pada Abdi tapi entahlah
penilaian orang-orang. Dulu aku tidak suka pada Abdi bahkan aku sangat
membencinya, nyaris saja ingin rasanya aku membunuhnya. Yaa.. rasa benci itu
mengubah semuanya dan sekarang ?? Aku sangat mencintainya, mungkin..!
“ Rahma, kamu baik-baik saja ?” suara
itu ?? suara itu sudah tak asing lagi ditelinga ku, dan benar saja ketika aku
melihat siapa orang itu. Ternyata Abdi.
“ Aku..?? Yaa... Aku baik-baik saja
!!” jawab ku. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan
baik yang tersembunyi. Wanita..?? bukankah itu salah satu keahlian mereka untuk
menutupi perasaan mereka yang sebenarnya. Semua terlihat baik-baik saja tapi
nyatanya tak sebaik yang dibayangkan.
Seperti biasa aku duduk disamping
Echa. Echa dulunya adalah gadis yang disukai Abdi. Echa itu wanita yang cantik,
pintar, baik, pandai bergaul, ramah dan hampir tak ada celah dalam dirinya.
Tapi itu dulu, sampai Abdi berkata kalau ia menyukai ku. Aku mendengus geli
ketika otak ku memutar memori antara Aku, Echa dan Abdi.
Waktu itu hujan turun dengan lebatnya
membasahi bumi yang kering ini. Aku dan Echa sedang menunggu hujan itu
berhenti. Echa sibuk mengamati hujan yang deras itu tetapi aku justru
menikmatinya. Aroma hujan, aku selalu menyukai itu, menikmati setiap tetesan
hujan yang jatuh. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah music klasik
ditelingaku dan aku menikmati itu sampai aku tahu bahwa Abdi memberikan
jaketnya untuk Echa. Aku benar-benar cemburu dan marah.
“Rahma, maaf.. aku nggak mau semua
berakhir sampai disini ?”
Aku sempat bingung dengan isi pesan
singkat Abdi. Kata-katanya sangat sulit untuk dicerna dan dipahami oleh otakku
sendiri, bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata itu. Tapi aku
menjawab....
“ apa yang berakhir ?? nggak ada yang
berakhir, semua akan sama seperti dulu. Maaf aku emosi. Jangan berlebihan
menanggapinya”
Tiba-tiba aku tersandar dari lamunan
ku karena guru sudah mulai memasuki kelas. Lagi-lagi mataku menangkap sosok
Abdi. Abdi sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin ?? aku pura-pura
tidak memperdulikannya walaupun mata ku terasa perih melihatnya. Tapi aku harus
fokus ini semua demi mimpi dan kebahagiaan ku.
Jam tambahan pun berakhir, semua
anak-anak dikelas itu sibuk mengobrol sana-sini membicarakan rencana mereka
sepulang dari jam tambahan. Aku sedang fokus membereskan buku-buku ku
memastikan agar tak ada satupun barang ku yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok
itu mengusikku lagi, membuat konsentrasiku buyar seketika.
“ Tidak.. hanya ingin melihat mu.
Rahma yang fokus benar-benar lain yaa.. terlihat lebih cantik” Abdi sedikit
menggoda ku. Aku sedikit terpengaruh dan mengangkat sudut bibir ku ketika
mendengar kata-kata gombalan basi itu.
“ Eeeh..?? Rahma senyum ?”
Setelah mendengarnya aku segera
merubah raut wajah ku. Aku menyesali senyuman ku barusan. Seharusnya aku tidak
memberikan senyuman berharga ku untuk orang yang salah. Yaa kepada si Abdi, si
cowok PHP itu. Ingin rasanya aku memutar waktu 5 detik yang lalu mengubah
senyuman itu menjadi sebuah tamparan yang melayang kepipinya. Sungguh entah
kenapa aku membencinya. Padahal aku sangat mencintainya.
“ Rahma.. ada yang mau aku bicarakan,
kita keluar sebentar yaa..”
Aku segera keluar bersama Abdi
sebelum teman-teman ku melihat. Ketika Abdi mengajak ku untuk ngobrol ditempat
teduh aku menolaknya. Aku hanya beralasan kalau saat ini hujan. Hujan air, dan
lagipula aku sangat suka Hujan.
“ Mau bicara apa ?” tanya ku
“ kamu kenapa akhir-akhir ini, kamu
menjauhi ku, kamu nggak pernah mengirim ku pesan singkat lagi, bahkan kamu
seperti membenciku. Aku salah apa sama kamu ?” jawab Abdi yang kembali
bertanya.
“ Semuanya sudah brakhir “
“ Berakhir ? Maksud mu ? Apa yang
berakhir ?”
“ Kita “
Beberapa menit kemudian aku melarat
kata-kata ku.
“ Maksud ku bukan kita tapi aku dan
kamu, bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?? “
“ Apa maksud mu Rahma? Aku tidak
mengerti.. kamu bicara apa sih ? siapa yang bilang kalu kau dan kamu tidak akan
pernah menjadi kita ??”
“Takdir. Takdir memang tidak pernah
berkata tentang hal itu, tapi takdir itu menunjukkannya.”
“ takdir tidak pernah menunjukkan itu
Rah” Jawab Abdi tegas
“ tak pernah ?? bagaimana dengan
kebersamaan kita ?? bukankah itu cukup menunjukkan kalu kita tidak bisa bersama
?? kamu keras sedang aku lembut, kamu api sedang aku air. Kita berbeda, bahkan
jika kita terus bersama kita kan menghancurkan satu sama lain dan aku tidak
inginkan itu.”
Hujan semangkin deras. Sebanyak air
hujan itulah air mata ku yang kutahan untuk tidak jatuh dihadapan Abdi. Mungkin
untuk terakhir kalinya aku ingin Abdi mengingat senyumku. Bukan tangis ku.
“ kenpa kamu menginginkan ini
berakhir ?? bukankah ini terlalu awal untuk mengakhirinya?”
“ kenapa kamu bertanya pada ku ??
kamu yang mengakhirinya bukan aku”
“ Aku ??? Haah.. aku tak pernah
mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
“ sekali lagi mungkin lidah mu
terlalu kaku untuk mengatakannya bahwa semua ini telah berakhir tetapi kamu
berhasil menunjukkan bahwa kamu ingin mengakhirinya “
“ Rah., Dulukan aku pernah bilang
kalau aku nggak mau......” ucapan Abdi terpotong karena aku segera menjawab.,
“ itu dulu, sekarang tanda-tandanya
sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
Hening sejenak. Abdi tidak bisa
menjawab apa-apa lagi, tak pernah terpikirkan oleh Abdi kalau aku kan
mengatakan hal-hal seperti ini. Mungkin Abdi tidak tahu apa yang membuat aku
berubah seperti ini. Buat apa dikatakan lagi tak cukupkah dia menyadarinya
selama ini.
“ lagipula kamu sekarang sudah punya
pacar kan??” kata ku yang ingin menyindir Abdi. “ pasti kamu bingung aku tau
dari mana kalau kamu sudah punya pacar !!” sambungku setengah mati memaksakan
senyum pada wajahku.
“ pastinya, kamu ini jangan-jangan
penguntit aku yaa..??” Abdi benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya barusan
bahkan aku ikut terkekeh dengan jawaban Abdi.
Aku berhenti dari tawa ku, aku
memperhatikan Abdi yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya aku melihat
Abdi tertawa karna ku dan bersamaku.Aku menatap wajah Abdi lekat-lekat dan aku
mencoba mengingat setiap lekuk pada wajah Abdi. Jika tuhan tak mengizinkanku
untuk memiliki Abdi maka biarkanlah aku memiliki kenangan dan cerita tentang
Abdi. Tetapi kauu tak ingin mengingat kenangan dan cerita ini setiap saat.
Biarkanlah hujan yang menyimpan kenangan dan cerita terakhir ku bersama Abdi.
Tanpa sadar aku menitiskan ait mata
dan aku berbalik membelakangi Abdi. Pundakku bergetar hebat, tangisanku
benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Suara tangisku pecah diantara lebatnya
hujan. Abdi segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung ku. Punggung
seorang gadis yang dulu sempat menjadi tempat pertama saat esdih maupun senang.
Abdi mungkin tahu bahwa betapa rapuhnya aku saat ini.
Aku segera menghapus air mata ku yang
jatuh tak beraturan seperti hujan yang turun, mengatur suara ku agar tak
bergetar saat berbicara dengan Abdi nantinya. Aku membalikkan tubuhku dan
tersenyum kaku pada Abdi. Abdi membalas senyuman itu dengan tulus. Aku tak tahu
harus bagaimana saat sesuatu sudah berakhir, yang aku tahu rasa sakit dihati
ini lebih dari sakit apapun itu dan yang terbesit dibenakku saat ini adalah
betapa bodohnya aku. Aku juga tahu bahwa hujan akan membawaku pada kenangan dan
cerita ku bersama Abdi, tetapi pada saat hujan berhenti kenangan dan cerita itu
sedikit demi sediikit akan menghilang.
Aku pergi meninggalkan Abdi yang
masih terpakur memikirkan segalanya dan masih terdiam bisu. Kini aku sadar
bahwa tak selamanya pangeran itu baik untukku.
Dan untuk HUJAN ?? terimakasih untuk
hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan dan cerita terakhirku bersama
Abdi. Kenangan itu pasti akan tetap ada jika hujan masih turun. Cerita itu akan
tetap ada jika hujan mulai turun setetes demi setetes. Banyaknya rintik hujan,
dan sebanyakk itu lah aku pernah mencintai Abdi. Terimakasih untuk Cinta yang
pernah singgah dihati ku.

0 komentar:
Posting Komentar