Rabu, 08 Juni 2016

sahabat dibangku belakang sekolah



Sahabat Dibangku Belakang Sekolah



Penulis      : Khairani Arrahma #K.A

            Digerbang sekolah itu aku bertemu sahabat untuk yang pertama kalinya, yaa.. rahma namanya. Kami sama-sama anak baru disekolah tingkat SMP dikota Bandung ini. Akudan Rahma satu kelas saat pembagian ruangan karena banyaknya murid terpaksa harus dibagi ada yang diruangan A, B, C dan D. Aku dan Rahma satu kelas, entah itu kebetulan atau apalah itu yang pasti aku duduk berdekatan bangku juga bersamanya. Mungkin ini takdir fikir ku.
            Dekatan bangku dengan anak yang pendiam itu sangat membosankan, bukan kah begitu ?? Yaa.. Rahma sangat pendiam jarang sekali dia mau bicara pada ku atau apapun itu, aku hanya dapat mendengar suaranya ketika dia meminjam pena pada ku. Rahama berbeda sekali dengan anak-anak lain dikelas ku.
            Sudah dua bulan kami mengikuti pembelajaran disekolah itu. Namun Rahma tetaplah seorang yang pendiam. Sepulang sekolah Rahma juga tidak punya teman untuk pulang, dia sendirian berjalan menapaki jalan yang penuh debu dan asap, melewati lorong-lorong sendirian. Aku selalu memperhatikannya ketika pulang dari sekolah memandanginya dari gerbang sekolah sampai tak terlihat lagi oleh ku baru lah aku beranjak pulang.
            Aku sangat prihatin pada Rahma teman dekat bangku ku dikelas. Apa yang dia sembunyikan ?? Kenapa sangat susah sekali memulai pembicaraan padanya ? Apa harus aku dulu yang memulainya ? fikir ku.
            Besok adalah hari senin yang dimana kebiasaan setiap sekolah upacara bendera dan kata sambutan dari guru dan kepala sekolah, sumgguh sangat membosankan berada dilapangan sekolah pagi-pagi. Hari ini matahari sedang naik saat kami melakukan upacara disekolah ooh my god sungguh sangat menyebalkan. Rahma berdiri tepat dibarisan belakang ku, kulirik dia terlihat kepanasan. Aku sangat ingin memberikannya buku yang ku pegang sebagai penutup kepalanya dari sinar matahari yang sangat menyengat itu.
            Upacara selesai kami masuk kekelas masing-masing dan tak lama kami masuk guru matematika pun masuk. Hhhuuuh.. aku sedikit mengeluh. Ku ;lihat Rahma mengeluarkan buku belajarnya, pena, dan buku rumus matematika. Aku tahu Rahma sangat pintar sekali tentang pelajaran matematika. Bahkan sebaliknya aku yang sangat tidak suka.
            Bel jam istrahat berbunyi, kulihat Rahma sedang terburu-buru memasukkan buku-bukunya kedalam tas lalu pergi. Aku tipe orang yang sangat kepo dan penasaran, aku mengikutinya dari belakang tanpa diketahuinya. Rahma duduk dibangku dibelakang sekolah, sendirian ?? Yaa.. lagi-lagi Rahma sendirian. Rasa kepo dan penasaran itu membuat aku tanpa ragu duduk disebelahnya. Rahma melirik ku namun hanya diam saja. Aku memulai pembicaraan yang mungkin sangat konyol dan bertanya pada Rahma.
“ Kamu itu suka sendiri yaa. Kamu gak takut apa diculik setan?”
            Rahma tersenyum, baru kali ini aku melihat senyumnya yang semanis dan mungkin seikhlas ini. Dan baru kali ini juga aku memberanikan diri mendekati teman kelas yang super pendiam itu.
“ enggak “ Rahma menjawab singkat.
“kenapa kamu suka menyendiri ?? apa kau tidak merasa kesepian ?” tanya ku lagi
“ sendiri itu tenang, dan kalau aku merasa tenang aku tidak merasa kesepian”
Jawaban konyol fikir ku. Tapi apa Rahma tidak punya sahabat ? aku ingin sekali bersahabat dengannya. Entah lah entah apa yang membuat aku ingin bersahabat dnegannya.
“apa kau punya seorang sahabat ? “ tanya ku lagi.
Rahma terdiam sejenak, dan aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang pertanyaan ku tadi.
“ punya.. tapi dia sudah pergi jauh “ jawaban Rahma agak sedikit membuat aku bingung dan membuat aku ingin bertanya kembali.
“ pergi..?? kemana ?? “
“ ketempat yang mungkin lebih tenang dari yang aku cari selama ini lewat kesendirian, dia sudah meninggal tiga bulan yang lalu, andai kejadian itu tak menimpanya pasti kami sekarang bersama-sama disini. “ Rahma mengungkap sedikit rasa penasaran ku, tapi rasa kepo itu menggebu-gebu, banyak sekali timbul pertanyaan dari ungkapan Rahma itu.
“ kejadian?? Kejadian apa yang menyebabkan sahabat mu meninggal ?? “
“ kecelakaan mel, waktu ingin menyeberang jalan karena menyusul ku, aku salah. Dan ini adalah salah ku. Seharusnya aku yang menyusulnya bukan dia, seharusnya aku yang korban disini bukan dia.. “ Rahma mulai mengisak menangis.
“ jangan salah kan dirimu, itu sudah jalan takdirnya menemui sang pencipta lebih dulu, lalu kenapa kau selalu menyendiri tidakkah kau ingin punya sahabat lagi.??”
“ yaa.. aku menyendiri karena rasa bersalah tak bertempat, aku ingin sahabat, sahabat yang seperti dia lagi mel, aku berharap dalam kesendian ku dia datang pada ku dan bercanda sebagai mana biasanya. Aku tahu itu hal yang tak mungkin”
Sekarang rasa penasaran dan kekepoan ku terjawab dan bahkan aku ikut terhanyut dalam kesedihan Rahma, aku merangkulnya, memberi dia kekuatan untuk tetap hidup dan semangat tanpa sahabat yang sangat disayangnya itu. Aku tahu Rahma butuh teman selama 3 bulan terakhir ini  tapi karena diamnya itu membuat orang menganggapnya sebagai seseorang yang pendiam.
Rahma menangis dibahuku, hujan pun turun dengan derasnya tapi kami tidak beranjak dari bangku itu tetap disana membiarkan semuanya basah karena hujan, membiarkan hujan seolah-olah yang menghapus sedih ini dekit demi sedikit. Aku belum pernah menemukan seseorang yang sangat menyayangi ku sebagai seorang sahabat. Jika pun aku mati tak ada sahabat yang menangis untuk ku, tak ada sahabat yang merindukan ku, tak ada sahabat yang mengingat ku sepanjang hidupnya. Sungguh aku sangat inginkan itu. Yaa bersahabat.
Semenjak cerita dibelakang sekolah dan bersama hujan yang turun pada waktu itu aku dan Rahma semakin dekat, Rahma pun mulai mau tertawa, bercerita, tersenyum, bercanda. Aku sangat bahagia melihat Rahma seceria ini, melupakan kesedihannya namun tidak melupakan sahabatnya. Rahma yang dulu jauh berbeda dengan Rahma yang sekarang semenjak cerita dibelakang sekolah itu.
Tak terasa liburan sekolah akan tiba setelah penerimaan raport nanti, melewati liburan yang sangat panjang pastinya. Untuk hari ini aku dan Rahma duduk lagi dibangku belakang sekolah itu, kami bercerita banyak hal, bercanda dan tertawa sedih bersama.
“ kita akan melewati liburan yang panjang, aku pasti sangat merindukan mu” ungkap ku.
Rahma tersenyum sembari menjawab “ aku juga. Terimakasih sudah mengubah hari ku, mendengarkan tangisan ku, mendengarkan ceritaku, tertawa dan sedih bersamaku”
Aku agak malu ketika rahma mengucapkan kata-kata itu karna bagiku itu bukan lah apa-apa tak sebanding dengan bahagianya aku dan dia ketika bersama-sama melewati hari-hari.
“ Sahabat” ujar rahma sembari menyodorkan jari kelingkingnya “ berjanji apapun yang terjadi diantara kita, kita tetap sahabat, sejauh mana pun jarak diantara kita, kita tetap sahabat.”
Aku menyambut uluran jari kelingking itu dengan haru, “ Yaa kita sahabat, berjanji tak akan saling melupakan, makasih sudah mau bersahabat dengan ku”.
Aku dan Rahma berpelukan erat sebagai seorang sahabat. Sahabat yang ku kenal pendiam, sahabat yang ku temukan cerita hidupnya dibangku belakang sekolah bersama hujan dan air mata.

3 komentar:

seru.. di tunggu postingan selanjutnya gan..

terimakasih atas kunjungan anda. tungguin ya postingan selanjutnya..

Posting Komentar