06.07 -
cerita remaja,Sahabat
3 comments
cerita remaja,Sahabat
3 comments
sahabat dibangku belakang sekolah
Penulis
: Khairani Arrahma #K.A
Digerbang sekolah
itu aku bertemu sahabat untuk yang pertama kalinya, yaa.. rahma namanya. Kami
sama-sama anak baru disekolah tingkat SMP dikota Bandung ini. Akudan Rahma satu
kelas saat pembagian ruangan karena banyaknya murid terpaksa harus dibagi ada yang
diruangan A, B, C dan D. Aku dan Rahma satu kelas, entah itu kebetulan atau
apalah itu yang pasti aku duduk berdekatan bangku juga bersamanya. Mungkin ini
takdir fikir ku.
Dekatan bangku dengan anak yang
pendiam itu sangat membosankan, bukan kah begitu ?? Yaa.. Rahma sangat pendiam
jarang sekali dia mau bicara pada ku atau apapun itu, aku hanya dapat mendengar
suaranya ketika dia meminjam pena pada ku. Rahama berbeda sekali dengan
anak-anak lain dikelas ku.
Sudah dua bulan kami mengikuti
pembelajaran disekolah itu. Namun Rahma tetaplah seorang yang pendiam. Sepulang
sekolah Rahma juga tidak punya teman untuk pulang, dia sendirian berjalan
menapaki jalan yang penuh debu dan asap, melewati lorong-lorong sendirian. Aku
selalu memperhatikannya ketika pulang dari sekolah memandanginya dari gerbang
sekolah sampai tak terlihat lagi oleh ku baru lah aku beranjak pulang.
Aku sangat prihatin pada Rahma teman
dekat bangku ku dikelas. Apa yang dia sembunyikan ?? Kenapa sangat susah sekali
memulai pembicaraan padanya ? Apa harus aku dulu yang memulainya ? fikir ku.
Besok adalah hari senin yang dimana
kebiasaan setiap sekolah upacara bendera dan kata sambutan dari guru dan kepala
sekolah, sumgguh sangat membosankan berada dilapangan sekolah pagi-pagi. Hari
ini matahari sedang naik saat kami melakukan upacara disekolah ooh my god
sungguh sangat menyebalkan. Rahma berdiri tepat dibarisan belakang ku, kulirik
dia terlihat kepanasan. Aku sangat ingin memberikannya buku yang ku pegang
sebagai penutup kepalanya dari sinar matahari yang sangat menyengat itu.
Upacara selesai kami masuk kekelas
masing-masing dan tak lama kami masuk guru matematika pun masuk. Hhhuuuh.. aku
sedikit mengeluh. Ku ;lihat Rahma mengeluarkan buku belajarnya, pena, dan buku
rumus matematika. Aku tahu Rahma sangat pintar sekali tentang pelajaran
matematika. Bahkan sebaliknya aku yang sangat tidak suka.
Bel jam istrahat berbunyi, kulihat Rahma
sedang terburu-buru memasukkan buku-bukunya kedalam tas lalu pergi. Aku tipe
orang yang sangat kepo dan penasaran, aku mengikutinya dari belakang tanpa
diketahuinya. Rahma duduk dibangku dibelakang sekolah, sendirian ?? Yaa..
lagi-lagi Rahma sendirian. Rasa kepo dan penasaran itu membuat aku tanpa ragu
duduk disebelahnya. Rahma melirik ku namun hanya diam saja. Aku memulai
pembicaraan yang mungkin sangat konyol dan bertanya pada Rahma.
“
Kamu itu suka sendiri yaa. Kamu gak takut apa diculik setan?”
Rahma tersenyum, baru kali ini aku
melihat senyumnya yang semanis dan mungkin seikhlas ini. Dan baru kali ini juga
aku memberanikan diri mendekati teman kelas yang super pendiam itu.
“
enggak “ Rahma menjawab singkat.
“kenapa
kamu suka menyendiri ?? apa kau tidak merasa kesepian ?” tanya ku lagi
“
sendiri itu tenang, dan kalau aku merasa tenang aku tidak merasa kesepian”
Jawaban
konyol fikir ku. Tapi apa Rahma tidak punya sahabat ? aku ingin sekali
bersahabat dengannya. Entah lah entah apa yang membuat aku ingin bersahabat
dnegannya.
“apa
kau punya seorang sahabat ? “ tanya ku lagi.
Rahma
terdiam sejenak, dan aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang pertanyaan ku
tadi.
“
punya.. tapi dia sudah pergi jauh “ jawaban Rahma agak sedikit membuat aku
bingung dan membuat aku ingin bertanya kembali.
“
pergi..?? kemana ?? “
“
ketempat yang mungkin lebih tenang dari yang aku cari selama ini lewat
kesendirian, dia sudah meninggal tiga bulan yang lalu, andai kejadian itu tak
menimpanya pasti kami sekarang bersama-sama disini. “ Rahma mengungkap sedikit
rasa penasaran ku, tapi rasa kepo itu menggebu-gebu, banyak sekali timbul pertanyaan
dari ungkapan Rahma itu.
“
kejadian?? Kejadian apa yang menyebabkan sahabat mu meninggal ?? “
“
kecelakaan mel, waktu ingin menyeberang jalan karena menyusul ku, aku salah.
Dan ini adalah salah ku. Seharusnya aku yang menyusulnya bukan dia, seharusnya
aku yang korban disini bukan dia.. “ Rahma mulai mengisak menangis.
“
jangan salah kan dirimu, itu sudah jalan takdirnya menemui sang pencipta lebih
dulu, lalu kenapa kau selalu menyendiri tidakkah kau ingin punya sahabat
lagi.??”
“
yaa.. aku menyendiri karena rasa bersalah tak bertempat, aku ingin sahabat,
sahabat yang seperti dia lagi mel, aku berharap dalam kesendian ku dia datang
pada ku dan bercanda sebagai mana biasanya. Aku tahu itu hal yang tak mungkin”
Sekarang
rasa penasaran dan kekepoan ku terjawab dan bahkan aku ikut terhanyut dalam
kesedihan Rahma, aku merangkulnya, memberi dia kekuatan untuk tetap hidup dan
semangat tanpa sahabat yang sangat disayangnya itu. Aku tahu Rahma butuh teman
selama 3 bulan terakhir ini tapi karena
diamnya itu membuat orang menganggapnya sebagai seseorang yang pendiam.
Rahma
menangis dibahuku, hujan pun turun dengan derasnya tapi kami tidak beranjak
dari bangku itu tetap disana membiarkan semuanya basah karena hujan, membiarkan
hujan seolah-olah yang menghapus sedih ini dekit demi sedikit. Aku belum pernah
menemukan seseorang yang sangat menyayangi ku sebagai seorang sahabat. Jika pun
aku mati tak ada sahabat yang menangis untuk ku, tak ada sahabat yang
merindukan ku, tak ada sahabat yang mengingat ku sepanjang hidupnya. Sungguh
aku sangat inginkan itu. Yaa bersahabat.
Semenjak
cerita dibelakang sekolah dan bersama hujan yang turun pada waktu itu aku dan
Rahma semakin dekat, Rahma pun mulai mau tertawa, bercerita, tersenyum,
bercanda. Aku sangat bahagia melihat Rahma seceria ini, melupakan kesedihannya
namun tidak melupakan sahabatnya. Rahma yang dulu jauh berbeda dengan Rahma
yang sekarang semenjak cerita dibelakang sekolah itu.
Tak
terasa liburan sekolah akan tiba setelah penerimaan raport nanti, melewati
liburan yang sangat panjang pastinya. Untuk hari ini aku dan Rahma duduk lagi
dibangku belakang sekolah itu, kami bercerita banyak hal, bercanda dan tertawa
sedih bersama.
“
kita akan melewati liburan yang panjang, aku pasti sangat merindukan mu” ungkap
ku.
Rahma
tersenyum sembari menjawab “ aku juga. Terimakasih sudah mengubah hari ku,
mendengarkan tangisan ku, mendengarkan ceritaku, tertawa dan sedih bersamaku”
Aku
agak malu ketika rahma mengucapkan kata-kata itu karna bagiku itu bukan lah
apa-apa tak sebanding dengan bahagianya aku dan dia ketika bersama-sama
melewati hari-hari.
“
Sahabat” ujar rahma sembari menyodorkan jari kelingkingnya “ berjanji apapun
yang terjadi diantara kita, kita tetap sahabat, sejauh mana pun jarak diantara
kita, kita tetap sahabat.”
Aku
menyambut uluran jari kelingking itu dengan haru, “ Yaa kita sahabat, berjanji
tak akan saling melupakan, makasih sudah mau bersahabat dengan ku”.
Aku
dan Rahma berpelukan erat sebagai seorang sahabat. Sahabat yang ku kenal
pendiam, sahabat yang ku temukan cerita hidupnya dibangku belakang sekolah
bersama hujan dan air mata.

3 komentar:
seru.. di tunggu postingan selanjutnya gan..
Hiiiiii
terimakasih atas kunjungan anda. tungguin ya postingan selanjutnya..
Posting Komentar