Rabu, 22 Juni 2016

Cinta & Rindu di Pelabuhan Berombang



Cinta & Rindu di Pelabuhan Berombang

PENULIS      : Khairani Arrahma #K.A

Berawal dari kata Cinta untuk memulai kehidupan ini, Cinta bisa mengantarkan kita pada mimpi-mimpi yang nyata juga semu dan perlu diketahui kita tidak akan terlahir tanpa ada Cinta. All for Love.
Aku berjalan cepat dari pagar sekolah menuju kelas karena aku belum siap PR Matematika hari ini yang diberikan Pak Guntur semalam. Tidak semua sih hanya beberapa soal lagi yang tidak aku mengerti yang ingin ku tanyakan dengan teman sebangku ku Saroh.
“ Pagi beb.. ??” aku menyapa Saroh teman sebangku ku yang sibuk menyapu kelas karna setiap hari Rabu jadwal piketnya. Aku memanggilnya dengan Beb karna itulah panggilan persahabatan kami. Aku dan Saroh tidak hanya teman satu bangku tapi juga Sahabat.
“ Heleeeh.. buku tugas ku ada ditas ambil aja.” Ujar Saroh memberitahu ku, Saroh tau betul aku seperti apa kalau sudah ada PR Matematika. Aku tersenyum bahagia mendengarnya.
Aku dengan cepat menyontek jawaban-jawaban soal Saroh kebuku tugas ku. Hanya butuh waktu 10 menit siap deh PR ku, Haaah.. akhirnya fikirku. Aku tau ini kebiasaan buruk tapi yaa mau gimana lagi, Just it kok selebihnya aku nggak pernah nyontek.
“ Beb.. jam istrahat kita kekantin yaaa..aku yang teraktir “ tawar ku pada Saroh
“ Yeeah nggak lha beb mendingan kita ke pelabuhan aja yok, belum pernah kepelabuhankan seumur hidup mu.??” Saroh meledek ku. Haaaah kalau dipikir-pikir memang iya sih seumur hidup aku gak pernah kepelabuhan berombang walaupun aku sendiri tinggal diberombang, gimana mau pergi coba ?? pulang sekolah merem dirumah bukan gak mau tapi memeng gak dikasi kemana-mana sama ortu takut ilang nanti anak nya yang cantik sedunia ini.. Hhaaah.
“ Jadi kita bolos gitu beb, kan pagar dikunci beb manjat dari mana coba ?”
Saroh diam sejenak mungkin lagi mikir jalan keluar, boro-boro mau keluar orang pintu keluar Cuma satu, pagarnya tinggi lagi kayak penjara. Saroh mengangkat bahu, ku rasa dia menyerah memikirkan jalan keluar yang gak ada celahnya.
Jam pelajaran Matematika sudah habis tapi Pak Guntur masih belum keluar, semua murid udah pada ngantuk, garu-garu kepala yang gak gatel, pura-pura mikir padahal ngayal, pura-pura dengerin, pura-pura ngerti apa yang disampain biar gak ketauan gobloknya, Haah jujur aja kalian pasti pernah kan kek gitu ?? gak usah munafik lha.
Tiba-tiba aku teringat sosok pria yang sedang ku kagumi saat ini, matanya, senyumnya, candanya, tawanya, dia kakak kelas XII IPS, Oooh tuhan aku sangat berharap hari ini duduk dekat nya saat makan dikantin. Haah Saroh membuyarkan lamunan ku.
“ Ayoo capcuss kekantin Pak Guntur udah goo.. Haah mumet otak ku.” Keluh Saroh.
Aku tidak berkata apa-apa hanya mengikuti Saroh dari belakang memilih tempat duduk dikantin, Haah tiba-tiba aku tersentak Saroh memilih tempat duduk persis didekat kakak kelas yang aku kagumi, Oooh Tuhaaan.. kenapa aku jadi Deg-degan kek gini sih gumam ku. Aku menatap Saroh dengan terkesima karena sudah memilih tempat yang cocok sesuai yang ku harapkan, Saroh menaikkan alisnya seolah-olah mengerti apa yang sedang ku pikirkan.
“ Heii.. kak boleh gabung..?” Saroh menyapa dengan senyum kayak Berbie.
“ Yaa.. boleh silakan.” Kakak itu senyum buat aku mau pingsan setengah mati klepek-klepek.
“ Sendirian kak..?” aku berusaha memberanikan diri bertanya.
“ Iyaa Nih.. soal nya temen-temen semua pada main basket.”
“ Loh.. kakak kok nggak ikutan??”
“ Lagi gak mood aja, Ooh yaa anak baru yaa ??”
Aku agak malu menjawab, sebenarnya bukan anak baru sih udah lama kakak aja yang gak peka kalau aku sering perhatikan kakak dari jauh fikirku.
“ Mmmmhh.. gak sih kak, udah lama Cuma mungkin kita aja yang gak pernah ketemu, mungkin ketemu tapi gak kenal ato pun nggak saling nyapa “ ungkapku berbalik-balik. Saroh bengong pasti dia lagi mikir “ Ngomong apa sih sitaik ini “. Kakak itu senyum mendengarnya buat aku hampir jantungan ngeliat senyum yang semanis dan selucu itu. Haaah..
“ Mungkin.. Mmmmhh kalau gitu kenalan donk, nama kamu siapa ?”
“ Aku.?? Mmmh nama aku Elisa kak, kalau nama kakak.,?” Tanya ku balik
“Oooh nama kakak Rifal Pratama Putra, panggil aja Rifal.”
Aku dan kak Rifal ngobrol seolah-olah kantin milik kami berdua. Haah Saroh hanya pendengar setia sambil bengong-bengong. Ntah lah, aku merasa nyaman dekat dengannya dan lebih banyak tertawa aku dibuat leluconnya. Sebelum bubaran kami sempat tukar-tukaran nomor handpone dan PIN BB.
“ Okee kalau gitu, aku duluan yaa.. Byeee..” Ucapnya berpamitan duluan sambil tersenyum manis. Oooh Tuhaaan kenapa senyum lagi sih kamu gak tau apa senyum mu itu membunuh ku. Haaaah lebaaaay.
“ Woooi.. gila lu yee.. udah pergipun orangnya senyam-senyum.” Ketus Saroh kesal, ternyata tanpa aku sadari kak Rifal udah pergi 5 menit yang lalu dan selama itu aku masih senyam-senyum sendiri.
“ Pulang sekolah kemana lu taik.?” Tanya saroh
“ Mungkin dirumah kok nggak BBMan, telfonan.,”
“Eleeh mentang udah dapat yang baru lupa deh sama aku.,”
“ Cuup Cuuup., nggak laa beb aku sayang loh sama kamu beb kuuu..”  Inilah aku dan Saroh bersahabat sungguh sangat lebaay tapi Asyik.
Pulang dari sekolah handpone Android Samsung ku bunyi, Yaa suara dering BBM yang masuk., Oooh Tuhaan kak Rifal PING!!! Aku., aku kegirangan setengah mati. Kenapa nggak ?? orang yang aku idolakan PING!!! Aku. Udah ganteng, baik, lucu, Jago basket, pinter, tajir lagi. Pokoknya Perfect deh.
Hari ini aku menghabiskan waktu BBMan dengan kak Rifal, besok dia ngajak aku jumpaan dipelabuhan berombang. Untuk pertama kalinya aku jalan dengan cowok dipelabuhan dan untuk pertama kalinya juga besok aku perdana pergi kepelabuhan berombang. Aku jadi nggak sabar menunggu hari esok.
“ Elisa, kamu cantik deh. Beruntung cowok yang dapetin kamu pasti bahagia banget” Puji kak Rifal ketika aku dan dia berada dipelabuhan berombang.
“ Nggak laa kak, aku nggak punya pacar”
“ Masa’ iyaa sih.,”
“ Iyaa kak., gak percaya banget sih, kok aku bohong nter malam aku disamperin pocong deh “ Canda ku.
Aku dan kak Rifal tertawa bersama hari ini dan berbagi banyak cerita, entahlah aku merasa ada sesuatu yang berbeda didalam hatiku untuknya. Dosakah aku menyimpan rasa ini untuknya.
Semenjak pertemuan hari itu aku dan kak Rifal semangkin dekat hanya sebatas teman ataupun enggak adik kakak., mungkin kak Rifal merasa begitu tapi aku ingin kedekatan itu lebih dari seorang teman ataupun adik kakak. Perasaan ini aku sembunyikan, semenjak hari itu Aku dan kak Rifal pun sering kepelabuhan berombang, seperti biasa kami bercandaa, berbagi cerita, menikmati angin sepoi-sepoi yang merubah jiwa.
Tak terasa waktu yang berlalu sudah mendekati perpisahan aku dan Kak Rifal, bagaimana tidak kak Rifal harus melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi dan meninggalkan kampung halaman, meninggalkan pelabuhan berombang dan juga mungkin meninggalkan ku disini. Jujur aku sangat sedih atas perpisahan ini, aku akan merindukannya disini, mungkin aku akan ungkapkan perasaan ini nanti. Tapi aku sangat tidak berani aku takut dia akan menjauhi ku.
Hari ini kak Rifal pergi untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi ke Jakarta. Jauh bukan ?? hari ini mungkin terakhir kalinya aku berjumpa dengannya dipelabuhan berombang, mungkin ini terakhir dan entah kapan akan bertemu lagi dengan jarak sejauh itu.
“ Elisa..??” panggilnya.
“ Yaa..” jawab ku, aku hanya diam dari tadi sebab aku tak tau aku harus apa ketika sesuatu harus berakhir sampai disini. Aku tak ingin menatap matanya hari ini aku takut tak akan sanggup melepasnya walaupun hubungan ini hanya sebatas teman dan adik kakak.
“ Mungkin hari ini kita terakhir bertemu, entahlah.. aku juga tak tau kapan kita akan bertemu lagi, aku bahagia pernah mengenal mu, berbagi cerita, menikmati tawa dan canda bersama” ungkap kak Rifal
“ lalu., walaupun kita jauh bukan berarti jarak jadi penghalang atas hubungan ini kan.,?? kita akan tetap berkomunikasi kan walaupun hanya lewat telfon ??” Harap ku.
“ Entah lha kau tak bisa memastikan itu semua.” Jawabnya., Yaa Tuhaan jawaban yang tak pernah ingin ku dengar. Aku terdiam seribu bahasa, mungkin sudah jelas bagiku bahwa ini semua kan berakhir disini. Aku harus bisa terima kenyataan ini, aku tak bisa ungkapkan perasaaan yang terpendam ini. Yang pasti aku pun bahagia pernah mengenalnya, karena dia cinta itu tumbuh dihati ku, karena dia aku tau bagaimana caranya menghargai waktu, dari dia aku tau betapa pentingnya moment yang indah itu.
“ Elisa.. jaga dirimu baik-baik disini yaa., maaf aku tak bisa lagi menemani mu setiap hari disini” ungakapnya., aku hanya bisa diam aku tak tau harus berkata apa yang aku tahu ini sangat menyakiti ku.
“ Elisa.. aku harus pergi, sebentar lagi busnya berangkat.”
Aku terkejut, harus secepat inikah kau pergi. Apa kau tak pernah tau bagaimana perasaan ku saat ini, kenapa..??kenapa kau tak pernah mengerti, jeritku dalam hati. Untuk terakhir kalinya aku menatap matanya lekat-lekat, aku hanya takut tak akan pernah melihat bola mata yang ku cintai itu.
“ Yaa,. Hati-hati yaa., jaga diri kakak baik-baik disana yaa., jangan lupa makan siang tepat waktu, jangan tinggal sholat, dan jangan lupain aku juga, akuu.. akuuu pasti merindukan kakak” ungkapku terbata-bata.. kak Rifal senyum dan kemudian pergi. Aku sangat tak merelakannya tapi apa hak ku untuk melarangnya, aku bukanlah siapa-siapa. Aku terisak menangis dipelabuhan itu sendirian, meluahkan rasa sesak yang kutahan dari tadi didada ku.
Semenjak hari itu kak Rifal tak pernah mengkabariku lagi, PING!!! Pun gak pernah, nomornya aja udah gak aktif lagi, semudah itukah kau menjauhi ku dan pergi begitu saja. Gumam ku.
Tapi yaa sudahlah.. itu semua ku anggap masa lalu yang indah yang aku dapati di pelabuhan berombang. Semenjak itu aku pun masih saja pergi ke pelabuhan setiap hari seperti biasa, walaupun keadaannya sekarang jauh berbeda tak ada kak Rifal. Aku sendiri bersama angin, berasama cinta yang ada untuknya dan rasa rindu yang begitu dalam untuknya.
Memang benar cinta tak selamanya berakhir indah, dan bisa juga menjadi rasa sakit. Cinta tak selamanya bisa memiliki, aku percaya itu. Untuk mu yang jauh disana terimakasih sudah hadir dan ciptakan rasa rindu dan cinta ini dihatiku tepatnya bersemi dipelabuhan berombang. Aku akan menanti mu disini, dipelabuhan berombang bersama cinta dan rindu ini.

Selasa, 21 Juni 2016

Sunge Berombang




SUNGE BEROMBANG



PENULIS      : Khairani Arrahma #K.A

Berombang itu sebuah desa yang tidak terlalu terkenal namanya dimana-mana. Mengapa dinamakan berombang ?? karena sejarahnya berada pada banyaknya pohon Berombang dipesisir pantai ataupun sungai-sungai. Anda penasaran..??? sama saya jugak.! kalian bisa lihat gambar diatas, itulah buah berombang yang ada disepanjang sungai dan pantai.
Mungkin untuk orang-orang yang tidak mengenal desa berombang itu akan bingung apa itu berombang ?? terkadang disitu saya merasa sedih saat orang-orang diluar desa berombang tidak mengenal desa saya. Kebanyakan orang-orang mengenalnya dengan kota Rantau Parapat. Yaa.. saya akui memang itu pusat kota untuk daerah labuhanbatu induk sana, tapi kan berombang jauh dari kota Rantau Parapat. Yaa mungkin disini lah terkadang orang-orang tidak terlalu mengenal desa berombang itu. Kalau dalam bahasa berombang “Taponcil”
Berombang punya tempat wisata yaitu pantai kalau bahasa berombangnya “Boting”. Berbagai macam pantai ada diberombang salah satunya sekarang pantai Kahona yang tengah ramai-ramainya dikunjungi orang. Yang paling menarik itu Boting pantainya timbul ditengah-tengah laut, orang-orang ramai berkunjung kesana saat Hari Lebaran. Entah lah terkadang saya pun bingung kenapa hanya Lebaran saja yang ramai ??
Tempat wisata lainnya yang ramai dikunjungi setiap anak muda mudi tentunya Pelabuhan Berombang, selain itu ada Ujung Batu namanya. Yaa di Ujung Batu itu terdapat banyak temapt-tempat makan disana yang sering ramai dikunjungi jika sore hari, lebih dari restoran. Masih banyak tempat-tempat menarik yang ada diberombang yang pastinya kalian tidak akan bosan menjeljahnya. Diberombang juga banyak kebun, seperti kebun Nenas, Kebun Semangka, Kebun Salak, Kebun Durian, dan juga kebun Rambutan.
Buah yang ada diberombang juga termasuk langka untuk daerah lain, contohnya buah berombang itu sendiri. Buah berombang tidak ada didaerah lain yang ada hanya didesa berombang saja atau yang sering disebut sunge berombang. Buah lain yang muungkin agak jarang terdengar seperti buah Nam-Nam, Asam Kalubi, Rukam, dan Koko.
Anak berombang dikenal sebagai anak pesisir ataupun anak pantai. Kenapa demikian ?? karena berombang dikeliliingi oleh laut dan terdapat banyak sungai dan pantai disana. Air laut berombang tidak sejernih air dipemandian waterpark ataupun waterboom.
Anak pesisir berombang lebih suka mandi dan bermain dengan air laut yang keruh khas berombang kalau bahasa berombangnya “bagambokh”. Anak pesisir berombang juga dikenal cantik-cantik walupun tidak secantik Syahrini dan ganteng-ganteng walaupun tak seganteng Lee Min Hoo.
Mayoritas berombang kebanyakan orang Melayu dan sebagaian ada orang Batak, orang China & orang Jawa. Bahasa yang dipakai diberombang itu bahasa kampung ataupun bahasa khas berombangnya. Anak pesisir berombang juga banyak yang merantau dari kota ke kota dan banyak dari mereka menyandang gelar sarjana, membangun kampung halaman yang kumuh itu.
Tidak hanya itu music khas berombang pun ada yang namanya “Tabal Lekho”. Tabal Lekho itu khusus untuk mayoritas Melayu saja yang dipakai pada saat pernikahan ataupun pemberian nama pada anak yang baru lahir . Tergantung orang nya juga sebenarnya.
Makanan seefood khas juga ada seperti udang, kepiting kalau bahasa berombangnya “Kotam”, ada juga Heko sejenis udang kalau bahasa berombangnya “ udang gakhotak” dan masih banyak lagi. Jadi kalau mau seefood yang segar dan enak datang saja keberombang yaaa.. dibrombang tidak hanya ada banyak buah, pantai, sungai, tempat wisata, tapi juga ada seefood sesuai selera anda.
Mungkin sampai disini dulu pengenalan pada Anak Pantai Berombang dan mohon kritik dan sarannya agar tulisan ini lebih baik lagi.

Hujan & Cerita Terakhir Bersama Mu




Hujan & Cerita Terakhir Bersama Mu


PENULIS : Khairani Arrahma #K.A

Aku mencengkram erat kepala ku ditengah hujan, aku masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otak ku. Rahma, begitu orang-orang memanggil nama ku. Menangis ditengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air mata pun tak akan terlihat.
Aku berjalan dikoridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak ?? fikiran ku sedang kacau saat ini, apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karena Abdi si pangeran berkuda putih itu. Sebenarnya Abdi hanyalah pria biasa dimata orang-orang, tapi dimataku dia lebih dari sekadar indah yang mengisi ruang hati ku dan hari-hari ku. Mungkin karena aku memandangnya dengan mata hati. Yaa.. mungkin saja.
Tak ada yang buruk mengenal Abdi, hanya saja Abdi terlalu untuk ku. Yaa.. terlalu baik, terlalu tampan, terlalu pintar dan nyaris sempurna. Itu menurut penilaian ku pada Abdi tapi entahlah penilaian orang-orang. Dulu aku tidak suka pada Abdi bahkan aku sangat membencinya, nyaris saja ingin rasanya aku membunuhnya. Yaa.. rasa benci itu mengubah semuanya dan sekarang ?? Aku sangat mencintainya, mungkin..!
“ Rahma, kamu baik-baik saja ?” suara itu ?? suara itu sudah tak asing lagi ditelinga ku, dan benar saja ketika aku melihat siapa orang itu. Ternyata Abdi.
“ Aku..?? Yaa... Aku baik-baik saja !!” jawab ku. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. Wanita..?? bukankah itu salah satu keahlian mereka untuk menutupi perasaan mereka yang sebenarnya. Semua terlihat baik-baik saja tapi nyatanya tak sebaik yang dibayangkan.
Seperti biasa aku duduk disamping Echa. Echa dulunya adalah gadis yang disukai Abdi. Echa itu wanita yang cantik, pintar, baik, pandai bergaul, ramah dan hampir tak ada celah dalam dirinya. Tapi itu dulu, sampai Abdi berkata kalau ia menyukai ku. Aku mendengus geli ketika otak ku memutar memori antara Aku, Echa dan Abdi.
Waktu itu hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi yang kering ini. Aku dan Echa sedang menunggu hujan itu berhenti. Echa sibuk mengamati hujan yang deras itu tetapi aku justru menikmatinya. Aroma hujan, aku selalu menyukai itu, menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah music klasik ditelingaku dan aku menikmati itu sampai aku tahu bahwa Abdi memberikan jaketnya untuk Echa. Aku benar-benar cemburu dan marah.
“Rahma, maaf.. aku nggak mau semua berakhir sampai disini ?”
Aku sempat bingung dengan isi pesan singkat Abdi. Kata-katanya sangat sulit untuk dicerna dan dipahami oleh otakku sendiri, bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata itu. Tapi aku menjawab....
“ apa yang berakhir ?? nggak ada yang berakhir, semua akan sama seperti dulu. Maaf aku emosi. Jangan berlebihan menanggapinya”
Tiba-tiba aku tersandar dari lamunan ku karena guru sudah mulai memasuki kelas. Lagi-lagi mataku menangkap sosok Abdi. Abdi sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin ?? aku pura-pura tidak memperdulikannya walaupun mata ku terasa perih melihatnya. Tapi aku harus fokus ini semua demi mimpi dan kebahagiaan ku.
Jam tambahan pun berakhir, semua anak-anak dikelas itu sibuk mengobrol sana-sini membicarakan rencana mereka sepulang dari jam tambahan. Aku sedang fokus membereskan buku-buku ku memastikan agar tak ada satupun barang ku yang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusikku lagi, membuat konsentrasiku buyar seketika.
“ Tidak.. hanya ingin melihat mu. Rahma yang fokus benar-benar lain yaa.. terlihat lebih cantik” Abdi sedikit menggoda ku. Aku sedikit terpengaruh dan mengangkat sudut bibir ku ketika mendengar kata-kata gombalan basi itu.
“ Eeeh..?? Rahma senyum ?”
Setelah mendengarnya aku segera merubah raut wajah ku. Aku menyesali senyuman ku barusan. Seharusnya aku tidak memberikan senyuman berharga ku untuk orang yang salah. Yaa kepada si Abdi, si cowok PHP itu. Ingin rasanya aku memutar waktu 5 detik yang lalu mengubah senyuman itu menjadi sebuah tamparan yang melayang kepipinya. Sungguh entah kenapa aku membencinya. Padahal aku sangat mencintainya.
“ Rahma.. ada yang mau aku bicarakan, kita keluar sebentar yaa..”
Aku segera keluar bersama Abdi sebelum teman-teman ku melihat. Ketika Abdi mengajak ku untuk ngobrol ditempat teduh aku menolaknya. Aku hanya beralasan kalau saat ini hujan. Hujan air, dan lagipula aku sangat suka Hujan.
“ Mau bicara apa ?” tanya ku
“ kamu kenapa akhir-akhir ini, kamu menjauhi ku, kamu nggak pernah mengirim ku pesan singkat lagi, bahkan kamu seperti membenciku. Aku salah apa sama kamu ?” jawab Abdi yang kembali bertanya.
“ Semuanya sudah brakhir “
“ Berakhir ? Maksud mu ? Apa yang berakhir ?”
“ Kita “
Beberapa menit kemudian aku melarat kata-kata ku.
“ Maksud ku bukan kita tapi aku dan kamu, bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?? “
“ Apa maksud mu Rahma? Aku tidak mengerti.. kamu bicara apa sih ? siapa yang bilang kalu kau dan kamu tidak akan pernah menjadi kita ??”
“Takdir. Takdir memang tidak pernah berkata tentang hal itu, tapi takdir itu menunjukkannya.”
“ takdir tidak pernah menunjukkan itu Rah” Jawab Abdi tegas
“ tak pernah ?? bagaimana dengan kebersamaan kita ?? bukankah itu cukup menunjukkan kalu kita tidak bisa bersama ?? kamu keras sedang aku lembut, kamu api sedang aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita terus bersama kita kan menghancurkan satu sama lain dan aku tidak inginkan itu.”
Hujan semangkin deras. Sebanyak air hujan itulah air mata ku yang kutahan untuk tidak jatuh dihadapan Abdi. Mungkin untuk terakhir kalinya aku ingin Abdi mengingat senyumku. Bukan tangis ku.
“ kenpa kamu menginginkan ini berakhir ?? bukankah ini terlalu awal untuk mengakhirinya?”
“ kenapa kamu bertanya pada ku ?? kamu yang mengakhirinya bukan aku”
“ Aku ??? Haah.. aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
“ sekali lagi mungkin lidah mu terlalu kaku untuk mengatakannya bahwa semua ini telah berakhir tetapi kamu berhasil menunjukkan bahwa kamu ingin mengakhirinya “
“ Rah., Dulukan aku pernah bilang kalau aku nggak mau......” ucapan Abdi terpotong karena aku segera menjawab.,
“ itu dulu, sekarang tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
Hening sejenak. Abdi tidak bisa menjawab apa-apa lagi, tak pernah terpikirkan oleh Abdi kalau aku kan mengatakan hal-hal seperti ini. Mungkin Abdi tidak tahu apa yang membuat aku berubah seperti ini. Buat apa dikatakan lagi tak cukupkah dia menyadarinya selama ini.
“ lagipula kamu sekarang sudah punya pacar kan??” kata ku yang ingin menyindir Abdi. “ pasti kamu bingung aku tau dari mana kalau kamu sudah punya pacar !!” sambungku setengah mati memaksakan senyum pada wajahku.
“ pastinya, kamu ini jangan-jangan penguntit aku yaa..??” Abdi benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya barusan bahkan aku ikut terkekeh dengan jawaban Abdi.
Aku berhenti dari tawa ku, aku memperhatikan Abdi yang masih tertawa lepas. Mungkin ini terakhir kalinya aku melihat Abdi tertawa karna ku dan bersamaku.Aku menatap wajah Abdi lekat-lekat dan aku mencoba mengingat setiap lekuk pada wajah Abdi. Jika tuhan tak mengizinkanku untuk memiliki Abdi maka biarkanlah aku memiliki kenangan dan cerita tentang Abdi. Tetapi kauu tak ingin mengingat kenangan dan cerita ini setiap saat. Biarkanlah hujan yang menyimpan kenangan dan cerita terakhir ku bersama Abdi.
Tanpa sadar aku menitiskan ait mata dan aku berbalik membelakangi Abdi. Pundakku bergetar hebat, tangisanku benar-benar tidak bisa ditahan lagi. Suara tangisku pecah diantara lebatnya hujan. Abdi segera menghentikan tawanya. Dia menatap punggung ku. Punggung seorang gadis yang dulu sempat menjadi tempat pertama saat esdih maupun senang. Abdi mungkin tahu bahwa betapa rapuhnya aku saat ini.
Aku segera menghapus air mata ku yang jatuh tak beraturan seperti hujan yang turun, mengatur suara ku agar tak bergetar saat berbicara dengan Abdi nantinya. Aku membalikkan tubuhku dan tersenyum kaku pada Abdi. Abdi membalas senyuman itu dengan tulus. Aku tak tahu harus bagaimana saat sesuatu sudah berakhir, yang aku tahu rasa sakit dihati ini lebih dari sakit apapun itu dan yang terbesit dibenakku saat ini adalah betapa bodohnya aku. Aku juga tahu bahwa hujan akan membawaku pada kenangan dan cerita ku bersama Abdi, tetapi pada saat hujan berhenti kenangan dan cerita itu sedikit demi sediikit akan menghilang.
Aku pergi meninggalkan Abdi yang masih terpakur memikirkan segalanya dan masih terdiam bisu. Kini aku sadar bahwa tak selamanya pangeran itu baik untukku.
Dan untuk HUJAN ?? terimakasih untuk hujan karena bersedia menjadi pengingat kenangan dan cerita terakhirku bersama Abdi. Kenangan itu pasti akan tetap ada jika hujan masih turun. Cerita itu akan tetap ada jika hujan mulai turun setetes demi setetes. Banyaknya rintik hujan, dan sebanyakk itu lah aku pernah mencintai Abdi. Terimakasih untuk Cinta yang pernah singgah dihati ku.